Kamis, 02 Juni 2016

Atresia Esophagus

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Atresia esophagus merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan tidak menyambungnya esofagus bagian proksimal dengan esofagus bagian distal. Atresia esofagus dapat terjadi bersama fistula trakeoesofagus, yaitu kelainan kongenital dimana terjadi persambungan abnormal antara esofagus dengan trakea. Atresia Esofagus meliputi kelompok kelainan kongenital terdiri dari gangguan kontuinitas esofagus dengan atau tanpa hubungan dengan trakhea. Pada 86%  kasus terdapat fistula trakhea oesophageal di distal, pada 7% kasus tanpa fistula Sementara pada 4% kasus terdapat fistula tracheooesophageal tanpa atresia, terjadi 1 dari 2500 kelahiran hidup. Bayi dengan Atresia Esofagus tidak mampu untuk menelan saliva dan ditandai sengan jumlah saliva yang sangat banyak dan membutuhkan suction berulangkali.
Kemungkinan atresia semakin meningkat dengan ditemukannya polihidramnion. Selang nasogastrik masih bisa  dilewatkan pada saat kelahiran semua bayi baru lahir dengan ibu polihidramnion sebagaimana juga bayi dengan mukus berlebihan, segara setelah kelahiran untuk membuktikan atau menyangkal diagnosa. Pada atresia esofagus selang tersebut tidak akan lewat lebih dari 10 cm dari mulut  (konfirmasi dengan Rongent dada dan perut). Angka keselamatan berhubungan langsung terutama dengan berat badan lahir dan kelainan jantung, angka keselamatan bisa mendekati 100%, sementara jika ditemukan adanyan salah satu faktor resiko mengurangi angka keselamatan hingga 80%  dan bisa hingga 30-50 % jika  ada dua faktor resiko.
Atresia esophagus merupakan kelainan kongenital yang cukup sering dengan insidensi rata-rata sekitar 1 setiap 2500 hingga 3000 kelahiran hidup. Insidensi atresia esophagus di Amerika Serikat 1 kasus setiap 3000 kelahiran hidup. Di dunia, insidensi bervariasi dari 0,4-3,6 per 10.000 kelahiran hidup. Insidensi tertinggi terdapat di Finlandia yaitu 1 kasus dalam 2500 kelahiran hidup. Masalah pada atresia esophagus adalah ketidakmampuan untuk menelan, makan secara normal, bahaya aspirasi termasuk karena saliva sendiri dan sekresi dari lambung.
1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Atresia Esophagus ?
2.      Apa saja penyebab dan Etiologi dari Atresia Esophagus ?
3.      Apa saja kasifikasi, Tanda dan gejala pada Atresia Esophagus ?
4.      Bagaimana mendiagnosa dan komplikasi apa saja dari Atresia Esophagus ?
5.      Bagaimana Patofiologi Atresia Esophagus
6.      Bagaimana penatalaksanaan dan pengobatan pada Atresia Esophagus ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Atresia Esophagus
2.      Untuk mengetahui apa saja penyebab dan Etiologi dari Atresia Esophagus
3.      Untuk mengetahui apa saja kasifikasi, Tanda dan gejala pada Atresia Esophagus
4.      Untuk mengetahui bagaimana mendiagnosa dan komplikasi apa saja dari Atresia Esophagus
5.      Untuk mengetahui bagaimana Patofiologi Atresia Esophagus
6.      Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan dan pengobatan pada Atresia Esophagus
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Atresia Esophagus
Atresia berarti buntu, atresia esofagus adalah suatu keadaan tidak adanya lubang atau muara (buntu), pada esofagus (+). Pada sebagian besar kasus atresia esofagus ujung esofagus buntu, sedangkan pada ¼ -1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah berhubungan dengan trakea setinggi karina (disebut sebagai atresia esophagus dengan fistula). Kelainan lumen esophagus ini biasanya disertai dengan fistula trakeoesofagus. Atresia esofagaus sering disertai kelainan bawaan lain, seperti kelainan jantung, kelainan gastroin testinal (atresia duodeni atresiasani), kelainan tulang (hemivertebrata).
Atresia esofagus adalah malpormasi yang disebabkan oleh kegagalan esofagus untuk mengadakan pasase yang kontinu : esophagus mungkin saja atau mungkin juga tidak membentuk sambungan dengan trakea  ( fistula trakeoesopagus) atau atresia esophagus adalah kegagalan esophagus untuk membentuk  saluran kotinu dari faring ke lambung selama perkembangan embrionik adapun pengertian lain yaitubila sebua segmen esoofagus mengalami gangguan dalam pertumbuhan nya( congenital)  dan tetap sebaga bagian tipis tanpa lubang saluran.
Fistula trakeo esophagus adalah hubungan abnormal antara trakeo dan esofagus . Dua kondisi ini biasanya terjadi bersamaan, dan mungkin disertai oleh anomaly lain seperti penyakit jantung congenital. Untuk alas an yang tidak diketahui  esophagus dan trakea gagal untuk berdeferensiasi dengan tepat selama gestasi pada minggu keempat dan kelima. Atresia Esofagus termasuk kelompok  kelainan kongenital terdiri dari gangguan kontuinitas esofagus dengan atau tanpa hubungan persisten dengan trachea.
2.2 Epidemiologi Atresia Esophagus
Atresia esofagus pertama kali dikemukakan oleh Hirschprung seorang ahli anak dan Copenhagen pada abad 17 tepatnya pada tahun 1862 dengan adanya lebih kurang 14 kasus atresia esophagus. Kelainan ini sudah diduga sebagai suatu malformasi dari traktus gastrointestinal. Meskipun sejarah penyakit atresia esofagus dan fistula trakeoesofagus telah dimulai pada abad ke 17, namun penanganan bedah terhadap anomali tersebut tidak berubah sampai tahun 1869. Baru pada tahun 1939, Leven dan Ladd telah berhasil menyelesaikan penanganan terhadap atresia esophagus. Lalu di tahun 1941 seorang ahli bedah Cameron Haigjit dad Michigan telah berhasil melakukan operasi pada atresia esofagus dan sejak itu pulalah bahwa Atresia Esofagus sudah termasuk kelainan kongenital yang bisa diperbaiki.
Di Amerika Utara insiden dari Atresia Esofagus berkisar 1:3000-4500 dari kelahiran hidup, angka ini makin lama makin menurun dengan sebab yang belum diketahui. Secara Internasional angka kejadian paling tinggi terdapat di Finlandia yaitu 1:2500 kelahiran hidup. Atresia Esofagus 2-3 kali  lebih sering pada janin yang  kembar. Kecenderungan peningkatan jumlah kasus atresia esophagus tidak berhubungan dengan ras tertentu. Namun dari suatu penelitian didapatkan bahwa insiden atresia esophagus paling tinggi ditemukan pada populasi kulit putih (1 kasus per10.000 kelahiran) dibanding dengan populasi non-kulit putih (0,55 kasus per 10.000 kelahiran).
            Jenis kelamin laki-laki memiliki resiko yang lebih tinggi dibandingkan pada perempuan untuk mendapatkan kelainan atresia esophagus. Rasio kemungkinan untuk mendapatkan kelainan esophagus antara laki-laki dan perempuan adalah sebesar 1,26:1. Atresia esophagus dan fistula trakeoesofagus adalah kelainan kongenital pada neonatus yang dapat didiagnosis pada waktu-waktu awal kehidupan. Beberapa penelitian menemukan insiden atresia esophagus lebih tinggi pada ibu yang usianya lebih muda dari 19 tahun dan usianya lebih tua dari 30 tahun, dimana beberapa penelitian lainnya juga mengemukakan peningkatan resiko atresia esophagus terhadap peningkatan umur ibu.
2.3 Etiologi Atresia Esophagus
Sampai saat ini belum diketahui zat teratogen apa yang bisa menyebabkan terjadinya kelainan atresia esophagus, hanya dilaporkan angka rekuren sekitar 2 % jika salah satu dari saudara kandung yang terkena. Atresia esophagus lebih berhubungan dengan sindroma trisomi 21,13 dan 18 dengan dugaan penyebab genetik. Namun saat ini, teori tentang terjadinya atresia esophagus menurut sebagian besar ahli tidak lagi berhubungan dengan kelainan genetik. Perdebatan tentang proses embriopatologi masih terus berlanjut.
Selama embryogenesis proses elongasi dan pemisahan trakea dan esophagus dapat terganggu. Jika pemisahan trekeoesofageal tidak lengkap maka fistula trakeoesofagus akan terbentuk. Jika elongasi melebihi proliferasi sel sebelumnya, yaitu sel bagian depan dan belakang jaringan maka trakea akan membentuk atresia esophagus.
Atresia esophagus dan fistula trakeoesofagus sering ditemukan ketika bayi memiliki kelainan kelahiran seperti :
Ø  Trisomi
Ø  Gangguan saluran pencernaan lain (seperti hernia diafragmatika, atresia duodenal, dan anus imperforata).
Ø  Gangguan jantung (seperti ventricular septal defect, tetralogifallot, dan patent ductus arteriosus).
Ø  Gangguan ginjal dan saluran kencing (seperti ginjal polisistik atau horseshoe kidney, tidak adanya ginjal,dan hipospadia).
Ø  Gangguan Muskuloskeletal
Ø  Sindrom VACTERL (yang termasuk vertebr, anus, candiac, tracheosofagealfistula, ginjal, dan abnormalitas saluran getah bening).
Ø  Lebih dari setengah bayi dengan fistula atau atresia esophagus memiliki kelainan lahir
Atresia Esophagus dapat disebababkan oleh beberapa hal, diantaranya sebagai berikut :
Ø  Faktor obat => Salah satu obat yang dapat menimbulkan kelainan kongenital yaitu thali domine .
Ø  Faktor radiasi => Radiasi pada permulaan kehamilan mungkin dapat menimbulkan kelainan kongenital pada janin yang dapat menimbulkan mutasi pada gen
Ø  Faktor gizi           
Ø  Deferensasi usus depan yang tidak sempurna dan memisahkan dari masing –masing menjadi esopagus dan trachea .          
Ø  Perkembangan sel endoteal yang lengkap sehingga menyebabkan terjadinya atresia.          
Ø  Perlengkapan dinding lateral usus depan yang tidak sempurna sehingga terjadi fistula trachea esophagus
Ø  Tumor esophagus.
Ø  Kehamilan dengan hidramnion
Ø  Bayi lahir prematur,
Tapi tidak semua bayi yang lahir premature mengalami penyakit ini. Dan ada alasan yang tidak diketahui mengapa esefagus dan trakea gagal untuk berdiferensiasi dengan tepat selama gestasi pada minggu ke empat dan ke  lima.
2.4 Klasifikasi Atresia Esophagus
Klasifikasi asli oleh Vogt tahun 1912 masih digunakan sampai saat ini . Gross pada tahun 1953 memodifikasi klasifikasi tersebut, sementara Kluth 1976 menerbitkan "Atlas Atresia Esofagus" yang terdiri dari 10 tipe utama, dengan masing-masing subtipe yang didasarkan pada klasifikasi asli dari Vogt. Hal ini terlihat lebih mudah untuk menggambarkan kelainan anatomi dibandingkan memberi label yang sulit untuk dikenali.
Atresia Esophagus diklasifikasikan sebagai berikut :
Ø  Atresia Esofagus dengan fistula trakheooesophageal distal ( 86% Vogt 111.grossC)
Merupakan gambaran yang paling sering pada proksimal esofagus, terjadi dilatasi dan penebalan dinding otot berujung pada mediastinum superior setinggi vetebra thoracal III/IV. Esofagus distal (fistel), yang mana lebih tipis dan sempit, memasuki dinding posterior trakea setinggi carina atau 1-2 cm diatasnya. Jarak antara esofagus proksimal yang buntu dan fistula trakheooesofageal distal bervariasi mulai dari bagian yang overlap hingga yang berjarak jauh.
Ø  Atresia Esofagus terisolasi tanpa fistula ( 7%, Vogg II, Gross A)
Esofagus distal dan proksimal benar-benar berakhir tanpa hubungan dengan segmen esofagus proksimal, dilatasi dan dinding menebal dan biasanya berakhir setinggi mediastinum posterior sekitar vetebra thorakalis II. Esofagus distal pendek dan berakhir pada jarak yang berbeda diatas diagframa.
Ø  Fistula trakheo esofagus tanpa atresia ( 4 %, Groos E)
Terdapat hubungan seperti fistula antara esofagus yang secara anatomi cukup intak dengan trakhea. Traktus yang seperti fistula ini bisa sangat tipis/sempit dengan diameter 3-5 mm dan umumnya berlokasi pada daerah servikal paling bawah. Biasanya single tapi pernah ditemukan dua bahkan tiga fistula.
Ø  Atresia esofagus dengan fistula trakeo esofagus proksimal (2%. Vogt III & Gross B).
Gambaran kelainan yang jarang ditemukan namun perlu dibedakan dari jenis terisolasi. Fistula bukan pada ujung distal esofagus tapi berlokasi 1-2 cm diatas ujung dinding depan esofagus.
Ø  Atresia esofagus dengan fistula trakheo esofagus distal dan proksimal
Pada kebanyakan bayi, kelainan ini sering terlewati (misdiagnosa) dan di terapi sebagai atresia proksimal dan fistula distal. Sebagai akibatnya infeksi saluran pernapasan berulang, pemeriksaan yang dilakukan memperlihatkan suatu fistula dapat dilakukan dan diperbaiki keseluruhan. Seharusnya sudah dicurigai dari kebocoran gas banyak keluar dari kantong atas selama membuat/ merancang anastomose.
2.5 Tanda dan Gejala Atresia Esophagus
Tanda dan gejala Atresia Esofagus yang mungkin timbul:
Ø  Batuk ketika makan atau minum
Ø  Bayi menunjukkan kurangnya minat terhadap makanan atau ketidakmampuan untuk menerima nutrisi yang cukup (pemberian makan yang buruk
Ø  Gelembung berbusa putih di mulut bayi
Ø  Memiliki kesulitan bernapas
Ø  Memiliki warna biru atau ungu pada kulit dan membran mukosa karena kekurangan oksigen (sianosis)
Ø  Meneteskan air liur
Ø  Muntah-muntah
Ø  Biasanya disertai hidramnion (60%) dan hal ini pula yang menyebabkan kenaikan frekuensi bayi lahir prematur, sebaiknya dari anamnesis didapatkan keterangan bahwa kehamilan ibu diertai hidramnion hendaknya dilakukan kateterisasi esofagus. Bila kateter terhenti pada jarak ≤ 10 cm, maka di duga atresia esofagus.
Ø  Bila pada bbl Timbul sesak yang disertai dengan air liur yang meleleh keluar, di curigai terdapat atresia esofagus.
Ø  Segera setelah di beri minum, bayi akan berbangkis, batuk dan sianosis karena aspirasi cairan kedalam jalan nafas.
Ø  Pada fistula trakeosofagus, cairan lambung juga dapat masuk kedalam paru, oleh karena itu bayi sering sianosis
2.6 Diagnosis Atresia Esophagus
Atresia Esophagus dapat di diagnosa dari beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut :
Ø  Biasanya disertai denga hydra amnion (60 %) dan hal ini pula yang menyebabkan kenaikan frekuensi bayi ang lahir premature. Sebaliknya bila dari ananese ditetapkan keterangan bahwa kehamilan ibu disertai hidraamnion, hendakla dilakukan kateterisasiesofagus dengan kateter pada jarak kurang dari 10 cm , maka harus didiga adanya  atresia esophagus.
Ø  Bila pada bayi baru lahir timbul sesak napas yang disertai air liur meleleh keluar, harus dicurigai adanya atresia esfagus.
Ø  Segera setlah diberi minum, bay akan berbangkis, batuk dan sianosis karena aspiasi cairan kedam jalan nafas.
Ø  Dianosis pasti dapat dibuat denga foto toraks yang akan menunjukkan gambaran kateter terhenti pada tempat  atresia. Pemberian kontras kedalam esophagus  dapat memberikan gambaran yang lebih pasti, tapi cara ini tidak dianjurkan.
Ø  Perlu dibedakan pada pemeriksaan fisis apakah lambung terisi udara atau kosong untuk menunjang atau menyingkirkan terdapatnya fistula trakeoesofagus.  Hal ini dapat terlihat pada foto abdomen.
2.7 Komplikasi Atresia Esophagus
Komplikasi-komplikasi yang bisa timbul setelah operasi perbaikan pada atresia esofagus dan fistula atresia esophagus adalah sebagai berikut :
Ø  Dismotilitas esophagus => Dismotilitas terjadi karena kelemahan otot dingin esophagus. Berbagai tingkat dismotilitas bisa terjadi setelah operasi ini. Komplikasi ini terlihat saat bayi sudah mulai makan dan minum.
Ø  Gastroesofagus refluk => Kira-kira 50 % bayi yang menjalani operasi ini kana mengalami gastroesofagus refluk pada saat kanak-kanak atau dewasa, dimana asam lambung naik atau refluk ke esophagus. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan obat (medical) atau pembedahan.
Ø  Trakeo esogfagus fistula berulang => Pembedahan ulang adalah terapi untuk keadaan seperti ini.
Ø  Disfagia atau kesulitan menelan => Disfagia adalah tertahannya makanan pada tempat esophagus yang diperbaiki. Keadaan ini dapat diatasi dengan menelan air untuk tertelannya makanan dan mencegah terjadinya ulkus.
Ø  Kesulitan bernafas dan tersedak => Komplikasi ini berhubungan dengan proses menelan makanan, tertaannya makanan dan saspirasi makanan ke dalam trakea.
Ø  Batuk kronis => Batuk merupakan gejala yang umum setelah operasi perbaikan atresia esophagus, hal ini disebabkan kelemahan dari trakea.
Ø  Meningkatnya infeksi saluran pernafasan => Pencegahan keadaan ini adalah dengan mencegah kontakk dengan orang yang menderita flu, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi vitamin dan suplemen.
2.8 Patofisiologi Atresia Esophagus
Patogenesis dan etiologi atresia esofagus tidaklah jelas. Trakea dan esofagus normalnya berkembang dan terpisah akibat lipatan cranial, ventral, dan dorsal yang muncul di dalam foregut. Atresia esofagus dengan fistula distal akibat dari invaginasi ventral yang berlebihan pada lipatan faringo-esofagus, yang menyebabkan kantung esofagus bagian atas mencegah lipatan cranial dari menuju ke bawah ke lipatan ventral. Untuk itu, sambungan dipasangkan antara esofagus dan trakea.
Terdapat beberapa tipe atresia esofagus, tetapi anomali yang umum adalah fistula antara esofagus distal dan trakea, sebanyak 80% bayi baru lahir dengan kelainan esofagus. Atresia esofagus dan tracheoesophageal fistula diduga sebagai akibat pemisahan yang tidak sempurna antara lempengan paru dari foregut selama masa awal perkembangan janin. Sebagian besar anomali kongenital pada bayi baru lahir meliputi vertebra, ginjal, janutng, muskuloskeletal, dan sistem gastrointestinal.            
Walaupun kelainan perkembangan pada esofagus merupakan hal yang tidak umum terjadi, tetapi apabila terjadi ketidaknormalan harus segera dikoreksi, karena dapat mengancam nyawa. Karena hal ini dapat menyebabkan regurgitasi ketika bayi diberi makan. Agenesis pada esofagus sangat jarang terjadi, kebanyakan atresia dan pembentukan fistula. Pada atresia, segmen esofagus hanya berupa thin, noncanalized cord, dengan kantung proksimal yang tersambung ke faring dan kantung bagian bawah yang menuju ke lambung. Atresia sering terdapat pada bifurksasi (dibagi menjadi dua cabang) trakea terdekat. Jarang hanya atresia sendiri, tetapi biasanya sering dijumpai bersamaan dengan fistula yang menyambungkan kantung bawah atau atas dengan bronkus atau trakea. Anomali yang berhubungan meliputi congenital heart disease, neurologic disease, genitourinary disease, dan other gastrointestinal malformations. Atresia terkadang dihubungkan dengan arteri umbilikus tunggal.
2.9 Penatalaksanaan pada Atresia Esophagus
Pasang sonde lambung no. 6 – 8 F yang cukup halus. Dan radioopak sampai di esophagus yang buntu. Lalu isap air liur secara teratur setiap 10 – 15 menit.
Pada Gross type II, tidur terlentang kepala lebih tinggi. Pada Gross type I, tidur terlentang kepala lebih rendah. Bayi dipuasakan dan diinfus. Kemudian segera siapkan operasi.(FKUI.1982). 
Pemberian minum baik oral/enteral merupakan kontra indikasi mutlak untuk bayi ini. Bayi sebaiknya ditidurkan dengan posisi “prone”/ telungkup, dengan posisi kepala 30o lebih tinggi. Dilakukan pengisapan lendir secara berkala, sebaiknya dipasang sonde nasogastrik untuk mengosongkan the blind-end pouch. Bila perlu bayi diberikan dot agar tidak gelisah atau menangis berkepanjangan.
Penatalaksanaan oleh bidan adalah sebagai berikut :
Ø  Pasang sonde lambung antara No 6-8 F yang cukup kalen dan radio opak sampai di esophagus yang buntu. Lalu isap air liur secara teratur setiap 10-15 menit.    
Ø  Pada groos II bayi tidur terlentang dengan kepala lebih tinggi.      
Ø  Pada groos I bayi tidur terlentang dengan kepala lebih rendah.     
Ø  Bayi di puasakan dan di infuse       
Ø  Konsultasi dengan yang lebih kompeten     
Ø  Rujuk ke rumah sakit           
2.10 Pengobatan pada Atresia Esophagus
Penderita atresia esophagus seharusnya ditengkurapkan untuk mengurangi kemungkinan isi lambung masuk ke dalam paru-paru. Kantong esophagus harus secara teratur dikosongkan dengan pompa untuk mencegah aspirasi sekret. Perhatian yang cermat harus diberikan terhadap pengendalian suhu, fungsi respirasi dan pengelolaan anomaly penyerta kadang-kadang, kondisi penderita mengharuskan operasi tersebut dilakukan secara bertahap:
Tahap pertama biasanya adalah pengikatan fistula dan pemasukan pipa gastrotomi untuk memasukkan makanan,        
Tahap kedua adalah anastomosis primer, makanan lewat mulut biasanya dapat diterima. Esofagografi pada hari ke 10 akan menolong menilai keberhasilan anastomosis.
Malformasi struktur trakhea sering ditemukan pada penderita atresia dan fistula esophagus. Trakeomalasia, pneumonia aspirasi berulang, dan penyakit saluran nafas reaktif sering ditemukan. Perkembangan trakheanya normal jika ada fistula, stenosis esophagus dan refluks gastroesofagus berat lebih sering pada penderita ini.
Pengobatan pada atresia etsophagus setelah dirujuk, yaitu antara lain:
Ø  Keperawatan => Sebelum dilakukan operasi, bayi diletakkan setengah duduk untuk mencegah terjadinya regurgitasi cairan lambung ke dalam paru, cairan lambung harus sering diisap untuk mencegah aspirasi.
Ø   Medik => Pengobatan dilakukan dengan operasi. Pada penderita atresia anus ini dapat diberikan pengobatan sebagai berikut :          
ü  Fistula yaitu dengan melakukan kolostomia sementara dan setelah 3 bulan dilakukan koreksi sekaligus  
ü  Eksisi membran anal
Hasil gambar untuk makalah atresia esofagus pada bayi
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Atresia esofagus merupakan suatu kelainan kongenital dengan variasi fistulatrakeoesofageal maupun kelainan kongenital lainnya. Atresia  esofagus yang dapat dicurigai sejak kehamilan, dan di diagnosa segera setelah bayi baru lahir. Bahaya utama pada atresia esofagus adalah resiko aspirasi, sehingga perlu dilakukan suction berulang. Penatalaksanaanya pada atresia esofagus adalah pembedahan, tetapi tetap dapat meninggalkan komplikasi lebih lanjut yang berhubungan dengan gangguan motilitas esofagus.
3.2 Saran
Diharapkan mahasiswa dapat memahami mengenai atresia esophagus bagian-bagiannya serta dapat mengaplikasikan asuhan yang diberikan. Dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan  oleh karena itu Kami mohon saran yang membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.



Esophageal atresia

Causes

Esophageal atresia (EA) is a congenital defect. This means it occurs before birth. There are several types. In most cases, the upper esophagus ends and does not connect with the lower esophagus and stomach.
Most infants with EA have another defect called tracheoesophageal fistula (TEF). This is an abnormal connection between the esophagus and the windpipe (trachea).
In addition, infants with EA/TEF often have tracheomalacia. This is a weakness and floppiness of the walls of the windpipe, which can cause breathing to sound high-pitched or noisy.
Some babies with EA/TEF have other defects as well, most commonly heart defects.

Symptoms

Symptoms of EA may include:
  • Bluish coloration to the skin (cyanosis) with attempted feeding
  • Coughing, gagging, and choking with attempted feeding
  • Drooling
  • Poor feeding

Exams and Tests

Before birth, a mother's ultrasound may show too much amniotic fluid. This can be a sign of EA or other blockage of the baby's digestive tract.
The disorder is usually detected shortly after birth when the infant tries to feed and then coughs, chokes, and turns blue. If EA is suspected, the health care provider will try to pass a small feeding tube through the infant’s mouth or nose into the stomach. If the feeding tube can’t pass all the way to the stomach, the infant will likely be diagnosed with EA.
An x-ray is then done and will show any of the following:
  • An air-filled pouch in the esophagus.
  • Air in the stomach and intestine.
  • If a feeding tube has been inserted before the x-ray, it will appear coiled in the upper esophagus.

Treatment

EA is a surgical emergency. Surgery to repair the esophagus is done as soon as possible after birth so that the lungs are not damaged and the baby can be fed.
Before the surgery, the baby is not fed by mouth and will need intravenous (IV) nutrition. Care is taken to prevent the baby from breathing secretions into the lungs.

Outlook (Prognosis)

An early diagnosis gives a better chance of a good outcome.

Possible Complications

The infant may breathe saliva and other fluids into the lungs, causing aspiration pneumonia, choking, and possibly death.
Other complications may include:
  • Feeding problems
  • Reflux (the repeated bringing up of food from the stomach) after surgery
  • Narrowing (stricture) of the esophagus due to scarring from surgery
Prematurity may complicate the condition. As noted above, there may also be defects in other areas of the body.

When to Contact a Medical Professional

This disorder is usually diagnosed shortly after birth.
Call your baby's provider right away if the baby vomits repeatedly after feedings, or if the baby develops breathing difficulties.

References

Madanick R, Orlando RC. Developmental anomalies of the esophagus. In: Feldman M, Friedman LS, Brandt LJ, eds. Sleisenger and Fordtran's Gastrointestinal and Liver Disease: Pathophysiology/Diagnosis/Management. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2016:chap 42.
Rothenberg SS. Esophageal atresia and tracheoesophageal fistula malformations. In: Holcomb GW, Murphy JP, Ostlie DJ, eds. Ashcraft's Pediatric Surgery. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier; 2014:chap 27.

Rabu, 01 Juni 2016

MIOMA UTERI

Miomas uterinos

Son tumores que crecen en la matriz de la mujer (útero). Estos crecimientos normalmente no son cancerosos (son benignos).
Tumores fibroides

Causas

Los miomas uterinos son comunes. Hasta 1 de cada 5 mujeres puede tener miomas durante sus años de fertilidad. La mitad de todas las mujeres tiene miomas hacia los 50 años.
Los miomas son infrecuentes en mujeres menores de 20 años. Son más comunes en mujeres afroamericanas que en mujeres de raza blanca.
Nadie sabe exactamente qué causa los miomas. Se cree que son ocasionados por:
  • Hormonas del cuerpo.
  • Genes (pueden ser hereditarios; es decir, pasar de padres a hijos).
Los miomas uterinos pueden ser tan diminutos que se necesita un microscopio para verlos. También pueden alcanzar un gran tamaño. Pueden llenar todo el útero y pesar varias libras. Aunque es posible que sólo se desarrolle 1 mioma uterino, en la mayoría de los casos hay más de 1.
Los miomas pueden crecer:
  • En la pared muscular del útero (miometriales)
  • Justo bajo la superficie del revestimiento uterino (submucosos)
  • Justo bajo la cubierta externa del útero (subserosos)
  • En un tallo o pedúnculo largo en la parte externa del útero o dentro de la cavidad del útero (pediculados)

Síntomas

Los síntomas más comunes de los miomas uterinos son:
  • Sangrado entre periodos.
  • Sangrado menstrual abundante, a veces con coágulos de sangre.
  • Periodos menstruales que pueden durar más de lo normal.
  • Necesidad de orinar con mayor frecuencia.
  • Retorcijones (cólicos) pélvicos o dolor durante los periodos.
  • Sensación de llenura o presión en la parte baja del abdomen.
  • Dolor durante la relación sexual.
A menudo, usted puede tener miomas y no presentar síntomas. El proveedor de atención médica puede encontrarlos durante una exploración física u otro examen. Los miomas a menudo se encogen y no provocan síntomas en mujeres que han pasado por la menopausia. Un estudio reciente mostró también que algunos miomas pequeños se encogen en mujeres que aún no han pasado por la menopausia.

Pruebas y exámenes

Su proveedor de atención llevará a cabo un examen pélvico. Esto puede mostrar que usted tiene un cambio en la forma del útero (matriz).
Los miomas no siempre son fáciles de diagnosticar. La obesidad puede hacer que los miomas sean más difíciles de detectar. Usted puede tener que hacerse estos exámenes para buscar los miomas:
  • La ecografía utiliza ondas sonoras para crear una imagen del útero.
  • Una resonancia magnética utiliza imanes y ondas de radio potentes para crear una imagen.
  • Una ecografía con infusión salina (histeroecografía): se inyecta una solución salina dentro del útero para que sea más fácil ver el útero mediante el ultrasonido.
  • La histeroscopia utiliza un tubo largo y delgado que se introduce a través de la vagina hasta el útero para examinar su interior.
  • En la biopsia endometrial se extrae un pequeño pedazo del revestimiento del útero para buscar cáncer si usted tiene sangrado inusual.
La laparoscopia pélvica

Tratamiento

El tipo de tratamiento que reciba dependerá de:
  • Su edad.
  • Su salud general.
  • Sus síntomas.
  • Tipo de miomas.
  • Si usted está embarazada.
  • Si desea tener hijos en el futuro.
El tratamiento para los síntomas de los miomas puede incluir:
  • Pastillas anticonceptivas para ayudar a controlar los periodos menstruales abundantes.
  • Dispositivos intrauterinos (DIU) que secreten hormonas para ayudar a reducir el sangrado abundante y el dolor. 
  • Ácido tranexámico para reducir la cantidad del flujo de sangre.
  • Suplementos de hierro para prevenir o tratar la anemia debido a los periodos abundantes.
  • Analgésicos (calamantes del dolor) como ibuprofeno y naproxeno (Naprosyn) para cólicos o dolor.
  • Inyecciones de hormonoterapia para ayudar a reducir el tamaño de los miomas (se hace sólo por corto tiempo).
  • Observación cuidadosa. Le pueden realizar ecografías o exámenes pélvicos de vez en cuando para revisar el crecimiento de los miomas.
La cirugía y los procedimientos empleados para tratar los miomas incluyen:
  • Histeroscopia. Con este procedimiento se pueden eliminar los miomas que crecen dentro del útero.
  • Embolización de las arterias uterinas. Este procedimiento detiene el riego sanguíneo al mioma, lo que hace que se encoja y muera. Esta puede ser una buena opción si desea tener hijos en el futuro.
  • Miomectomía. Con esta cirugía se extirpan los miomas del útero. Esta también puede ser una buena opción si desea tener hijos. No impedirá que los miomas crezcan de nuevo.
  • Histerectomía. Con esta cirugía, se extirpa el útero por completo. Puede ser una opción si usted no desea tener hijos, si los medicamentos no funcionan y si no le pueden realizar otros procedimientos.

Grupos de apoyo

National Uterine Fibroid Foundation: www.nuff.org

Expectativas (pronóstico)

Si tiene miomas sin síntomas, es posible que no necesite tratamiento.
Si tiene miomas, estos pueden crecer si usted queda embarazada. Esto se debe al incremento del flujo sanguíneo y a niveles más altos de estrógenos. Los miomas generalmente vuelven a su tamaño original después del nacimiento del bebé.
Miom adalah pertumbuhan di dalam atau di sekitar uterus (rahim) yang tidak bersifat kanker atau ganas. Miom dikenal juga dengan nama mioma, uteri fibroid, atau leiomioma. Miom berasal dari sel otot rahim yang mulai tumbuh secara abnormal. Pertumbuhan inilah yang akhirnya membentuk tumor jinak.
Sekitar 75 persen wanita pernah memiliki miom. Terkadang, kondisi ini tidak diketahui oleh sebagian wanita yang mengalami karena tidak muncul gejala. Jika ada, gejala yang mungkin muncul akibat miom adalah:
  • Masa menstruasi menyakitkan atau berlebih.
  • Rasa sakit atau nyeri pada bagian perut atau punggung bawah.
  • Rasa tidak nyaman, bahkan sakit, saat berhubungan seksual.
  • Sering buang air kecil.
  • Mengalami konstipasi.
  • Keguguran, mengalami kemandulan, atau bermasalah pada masa kehamilan (sangat jarang terjadi).
Miom-Alodokter
Ukuran dari miom sendiri sangat bervariasi, ada yang sekecil biji dan ada juga yang berukuran besar hingga mengakibatkan rahim membesar. Miom yang muncul mungkin hanya satu atau bisa juga muncul beberapa secara sekaligus.
Jenis miom yang ada dibedakan berdasarkan lokasi tumbuhnya miom, terbagi seperti berikut ini:
  • Fibroid intramural. Miom jenis ini tumbuh di antara jaringan otot rahim, lokasi yang paling umum terbentuknya miom.
  • Fibroid subserous. Miom yang tumbuh di bagian luar dinding rahim, ke rongga panggul. Jenis ini bisa tumbuh menjadi sangat besar.
  • Fibroid submucous. Miom ini tumbuh di lapisan otot bagian dalam dari dinding rahim.

Penyebab Munculnya Miom

Hingga kini, penyebab kemunculan miom masih belum diketahui. Kemunculan kondisi ini dikaitkan dengan hormon estrogen (hormon reproduksi yang dihasilkan oleh ovarium). Biasanya miom muncul pada usia sekitar 30-50 tahun. Setelah mengalami menopause, miom akan menyusut karena penurunan kadar estrogen.
Miom lebih sering muncul pada wanita dengan berat badan berlebih atau yang mengalami obesitas. Dengan meningkatnya berat tubuh, hormon estrogen di dalam tubuh juga akan meningkat. Selain itu, faktor keturunan juga berperan dalam kasus miom. Wanita dengan ibu dan saudara perempuan yang pernah mendapatkan miom akan cenderung memiliki miom.
Beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko munculnya miom adalah menstruasi yang dimulai terlalu dini, banyak mengonsumsi daging merah dibandingkan sayur-sayuran dan buah-buahan, dan kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Risiko seorang wanita mengalami miom akan menurun setelah melahirkan anak. Dan risiko makin kecil jika memiliki lebih banyak anak.

Diagnosis Miom

Miom terkadang didiagnosis secara tidak disengaja ketika Anda melakukan pemeriksaan ginekologi, melakukan tes, atau pencitraan tertentu. Hal ini terjadi karena miom bisa tidak menimbulkan gejala sama sekali.
Jika Anda mengalami beberapa gejala dari miom dan berlangsung cukup lama, segera cari tahu penyebabnya. Biasanya dokter akan menyarankan untuk menjalani pemindaian ultrasonografi (USG) untuk memastikan diagnosisnya atau mencari tahu penyebab kemunculan gejala yang Anda alami.

Pengobatan Miom

Miom yang tidak memunculkan gejala tertentu, biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus. Biasanya setelah masa menopause, miom jenis ini akan menyusut atau bahkan menghilang tanpa menjalani pengobatan.
Pengobatan akan dilakukan pada miom yang menimbulkan gejala. Pengobatan ini berfungsi meringankan gejala yang muncul. Apabila pengobatan yang dilakukan tidak memiliki dampak yang efektif, pelaksanaan prosedur operasi perlu dilakukan.

 

Banyak wanita yang tidak mengetahui bahwa mereka menderita miom karena beberapa miom tidak menimbulkan gejala yang bisa dikenali. Tapi bagi para wanita yang mengalaminya, berikut ini adalah beberapa gejala yang muncul akibat miom.
  • Menstruasi berlebih atau menyakitkan. Miom tidak mengubah siklus menstruasi seseorang. Tapi kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya pendarahan berlebihan, masa menstruasi yang bertambah lama (lebih dari tujuh hari), menstruasi yang lebih sakit atau lebih nyeri dari biasanya.
  • Sering buang air kecil. Ketika miom yang muncul kian menekan kandung kemih, Anda akan sering buang air kecil.
  • Konstipasi. Kondisi ini akan muncul ketika miom yang ada menekan rektum atau usus besar.
  • Rasa sakit pada bagian perut. Jika muncul miom yang cukup besar, perut akan terasa tidak nyaman atau bisa terjadi pembengkakan. Selain pada bagian perut, punggung bagian bawah dan kaki juga bisa terasa sakit atau nyeri.
  • Sakit saat berhubungan seksual. Miom yang tumbuh di sekitar vagina atau leher rahim akan menyebabkan munculnya rasa sakit atau tidak nyaman saat berhubungan seks.
Tapi pada kasus yang sangat jarang terjadi, miom juga bisa mengganggu kehamilan, menyebabkan kemandulan dan keguguran.
Perlu diingat bahwa menstruasi berlebih belum tentu menjadi pertanda dari masalah kesehatan tertentu, tapi kondisi ini bisa berpengaruh baik secara mental maupun fisik, termasuk berdampak kepada kehidupan sehari-hari Anda. Untuk memastikan dan mencegah kondisi yang lebih serius, tanyakan kepada dokter jika Anda mengalami gejala yang cukup mengganggu.

Diagnosis terhadap miom bisa sulit untuk dilakukan mengingat beberapa kondisi tidak menimbulkan gejala sama sekali. Biasanya miom diketahui secara tidak sengaja ketika Anda menjalani pemeriksaan panggul.
Ketika gejala muncul dan dokter mencurigai adanya miom, pemeriksaan panggul akan dilakukan. Langkah ini berfungsi mencari tanda-tanda lain dari miom.
Berikut ini adalah beberapa tes atau pemeriksaan untuk memastikan diagnosis terhadap miom.
  • Ultrasonografi (USG). Alat yang memancarkan frekuensi gelombang suara untuk menghasilkan gambar dari bagian dalam tubuh Anda. Hasil gambar yang dihasilkan dari pemindaian ditampilkan melalui layar agar dokter bisa melihat apakah terdapat miom.
  • Magnetic resonance imaging (MRI). Hasil pencitraan ini bisa memperlihatkan ukuran dan lokasi miom di dalam tubuh Anda. Alat ini juga bisa mengenali berbagai jenis tumor dan membantu menentukan penanganan yang tepat.
  • Histeroskopi. Sebuah teleskop kecil (histeroskop) akan dimasukkan ke rahim melalui vagina dan serviks untuk melihat bagian dalam rahim Anda. Prosedur ini dilakukan untuk mencari miom yang berada di dalam rahim. Pasien akan menerima anastesi lokal atau total.
  • Laparoskopi. Pipa kecil dengan cahaya dan kamera di ujungnya dimasukkan untuk melihat bagian dalam perut atau panggul. Prosedur ini dilakukan untuk mencari miom yang terdapat pada bagian luar dari rahim atau otot-otot di sekitar rahim.
  • Biopsi. Sampel jaringan akan diangkat ketika melakukan prosedur histeroskopi atau laparoskopi untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium.

  • Pada kasus miom yang tidak menimbulkan gejala, kemungkinan tidak diperlukan pengobatan. Miom kecil biasanya akan menyusut dengan sendirinya. Pertumbuhan sel pada miom tidak bersifat kanker dan kondisi ini jarang sekali memengaruhi kehamilan. Miom biasanya tumbuh secara perlahan-lahan atau tidak sama sekali.

    Obat-obatan untuk Mengatasi Miom

    Pada miom yang memiliki gejala, terdapat beberapa obat-obatan yang bisa digunakan untuk meredakan gejala yang muncul, yaitu:
  • Kontrasepsi oral (pil KB). Obat ini berfungsi dengan cara menghambat sel telur agar tidak dilepaskan dari ovarium untuk mencegah kehamilan. Selain itu, pil KB bisa meringankan pendarahan berlebih dan membantu mengurangi rasa sakit saat menstruasi.
  • Levonorgestrel intrauterine system (LNG-IUS). Ini adalah sebuah alat dari plastik yang diletakkan di dalam rahim. Alat ini berfungsi mengeluarkan hormon progesteron yang bernama levonorgestrel secara perlahan-lahan. Dengan alat ini, akan memperlambat pertumbuhan dinding rahim agar lebih tipis dan pendarahan menjadi lebih sedikit. Alat ini juga berfungsi sebagai alat kontrasepsi dan akan berhenti setelah Anda tidak menggunakannya.
  • Asam traneksamat. Bagi yang masih menginginkan untuk bisa hamil, Anda bisa mengonsumsi obat asam traneksamat. Fungsi obat ini menyebabkan terjadinya penggumpalan darah di dalam rahim. Obat ini bukan alat kontrasepsi dan tidak bisa mencegah hamil.
  • Obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Obat ini bisa dikonsumsi untuk menghentikan atau mengurangi pendarahan. Obat ini dapat menghalangi tubuh dalam menghasilkan senyawa prostaglandin, yang terkait dengan menstruasi berlebih. OAINS termasuk golongan obat pereda rasa sakit.
  • Norethisterone oral. Obat ini adalah penghasil hormon progesteron buatan manusia untuk mengurangi menstruasi berlebih. Obat ini berfungsi mencegah dinding rahim tumbuh dengan cepat.
  • Progesteron suntik. Memiliki fungsi sama untuk mencegah dinding rahim tumbuh dengan cepat dan mengatasi menstruasi berlebih. Obat ini juga berfungsi sebagai alat kontrasepsi.
  • Gonadotropin releasing hormone (GnRH). Obat ini akan membuat tubuh menghasilkan lebih sedikit hormon estrogen, yang akhirnya akan menyusutkan miom yang ada di dalam tubuh. Obat ini juga membantu meredakan menstruasi berlebih serta mengurangi tekanan dan rasa nyeri pada perut. Selain itu, gejala sering buang air kecil dan konstipasi juga bisa diatasi dengan bantuan obat ini.

Operasi pada Miom

Jika gejala yang muncul akibat miom cukup parah dan pengobatan yang dilakukan tidak berhasil, Anda akan disarankan menjalani operasi. Anda bisa menanyakan kepada dokter tentang manfaat dan risiko yang akan dihadapi ketika memilih prosedur operasi tertentu. Berikut ini beberapa operasi yang dilakukan untuk mengatasi miom.
  • Bedah histeroskopi. Ini adalah prosedur mengangkat miom melalui vagina dengan menggunakan peralatan operasi kecil. Langkah ini tidak memerlukan adanya penyayatan, proses pengangkatan miom dilakukan melalui vagina. Cara ini cocok bagi wanita yang masih ingin memiliki anak di masa mendatang.
  • Miomektomi. Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat miom yang berada pada dinding rahim. Operasi ini dilakukan apabila Anda masih ingin memiliki anak. Meski begitu, operasi ini sangat bergantung pada ukuran, jumlah, dan letak miom pada rahim. Operasi jenis ini tidak bisa diterapkan pada segala jenis miom. Cara ini cukup efektif mengatasi miom, meski ada kemungkinan miom dapat kembali dan akan diperlukan operasi lanjutan.
  • Histerektomi. Prosedur ini adalah operasi pengangkatan seluruh rahim yang akan disarankan, antara lain jika miom yang ada cukup besar, terjadi pendarahan yang banyak, dan Anda tidak ingin memiliki anak lagi. Cara ini sangat efektif dalam mencegah kembalinya miom di masa mendatang.
  • Selain prosedur operasi di atas, terdapat cara lain untuk mengatasi miom tanpa proses operasi.
  • Embolisasi arteri rahim. Langkah ini disarankan pada wanita yang memiliki miom yang sangat besar. Proses ini dilakukan oleh dokter ahli radiologi yang terlatih dalam memakai sinar X dan alat pemindaian. Prosedur ini akan menghambat pembuluh darah yang menyuplai miom dan sebagai akibatnya ukuran miom akan menyusut. Prosedur ini sebaiknya dilakukan setelah membahas manfaat, risiko, dan ketidakpastian yang mungkin terjadi. Hingga kini belum bisa dipastikan apakah prosedur ini akan berdampak kepada kesuburan atau proses kehamilan.
  • Ablasi endometrium. Ini adalah prosedur kecil untuk mengangkat dinding rahim. Langkah ini digunakan untuk mengurangi pendarahan berlebih saat menstruasi pada wanita yang mengidap miom. Selain itu, cara ini juga bisa mengatasi miom kecil yang berada di dinding rahim. Pengangkatan dinding rahim ini bisa dilakukan dengan memakai energi laser, energi panas microwave, lingkaran kabel yang panas, atau cairan panas.
Terkecuali histerektomi, semua proses yang dilakukan di atas masih memungkinkan munculnya kembali miom di masa mendatang. Masih ada kemungkinan miom kecil yang tidak terdeteksi oleh dokter dapat tumbuh dan mengakibatkan gejala yang memerlukan pengobatan.

Meski miom jarang menyebabkan komplikasi yang berat, terdapat kondisi yang disebabkan miom yang bisa mengganggu kesehatan Anda sebagai wanita. Komplikasi yang terjadi tergantung kepada gejala, letak dan ukuran miom yang ada pada tubuh Anda. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah:
  • Anemia defisiensi besi. Pendarahan berlebih yang diakibatkan oleh miom bisa menyebabkan anemia defisiensi besi. Suplemen zat besi bisa dikonsumsi untuk membantu menggantikan darah yang hilang ketika mengalami menstruasi.
  • Kemandulan. Jika miom yang ada sangat besar, akibatnya berpotensi menghalangi sel telur yang telah dibuahi untuk menempel pada dinding rahim atau menghalang sel sperma sehingga tidak bisa mencapai sel telur. Tapi kondisi ini jarang sekali terjadi.
  • Gangguan yang terjadi pada kehamilan. Miom bisa mengganggu perkembangan bayi dan mempersulit proses persalinan. Kelahiran prematur juga bisa terjadi. Selain itu, mungkin diperlukan operasi Caesar apabila miom besar menghalangi vagina. Meski jarang sekali, miom juga bisa menyebabkan keguguran. Tanyakan pada dokter tentang pilihan penanganan terbaik yang bisa dilakukan.

Ibu hamil dengan kekurangan energi kronik

KURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL

Hasil gambar untuk ibu hamil kurang energi kronik

KURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL

PENGERTIAN
  • Menurut Depkes RI (1994) pengukuran LILA pada kelompok wanita usia subur adalah salah satu cara untuk mendeteksi dini yang mudah dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat awam, untuk mengetahui kelompok berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil adalah kekurangan gizi pada ibu hamil yang berlangsung lama (beberapa bulan atau tahun) (DepKes RI, 1999).
  • Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mempunyai kecenderungan menderita KEK ( Arismas,2009).
  • Ibu KEK adalah ibu yang ukuran LILAnya < 23,5 cm dan dengan salah satu atau beberapa kriteria sebagai berikut : a.Berat badan ibu sebelum hamil < 42 kg. b.Tinggi badan ibu < 145 cm. c.Berat badan ibu pada kehamilan trimester III < 45 kg. d.Indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil < 17,00 e.Ibu menderita anemia (Hb < 11 gr %) (Weni, 2010). 
PENGUKURAN STATUS GIZI 

1.Pengukuran LILA 
  • Ada beberapa cara untuk dapat digunakan untuk mengetahui status gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat badan selama hamil, mengukur LILA, mengukur kadar Hb. Bentuk adan ukuran masa jaringan adala masa tubuh. Contoh ukuran masa jaringan adala LILA, berat badan, dan tebal lemak. Apabila ukuran ini rendah atau kecil, menunjukan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan. Pertambahan otot dan lemak di lengan berlangsung cepat selama tahun pertama kehidupan (Arisman,2009). 
  • Lingkaran Lengan Atas (LILA) mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak berpengaruh banyak oleh cairan tubuh. Pengukuran ini berguna untuk skrining malnutrisi protein yang biasanya digunakan oleh DepKes untuk mendeteksi ibu hamil dengan resiko melahirkan BBLR bila LILA < 23,5 cm (Wirjatmadi B, 2007). Pengukuran LILA dimaksudkan untuk mengetahui apakah seseorang menderita Kurang Energi Kronis. Ambang batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23.5 cm. Apabila ukuran kurang dari 23.5 cm atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir rendah ( Arisman, 2007) 
  • a.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalan pengukuran LILA 
  1. Pengukuran dilakukan dibagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri. 
  2. Lengan harus dalam posisi bebas. 
  3. Lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang. 
  4. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga permukaannya tidak rata (Arisman, 2007). 
  • b.Cara Mengukur LILA 
  1. Tetapkan posisi bahu dan siku 
  2. Letakkan pita antara bahu dan siku. 
  3. Tentukan titik tengah lengan. 
  4. Lingkaran pita LILA pada tengah lengan. 
  5. Pita jangan telalu ketat.
  6. Pita jangan terlalu longgar. 
  7. Cara pembacaan skala yang benar. (Arisman, 2007) 
2.Pengukuran Berat Badan 
  • Berat badan merupakan ukuran antropometris yang paling banyak digunakan karena parameter ini mudah dimengerti sekalipun oleh mereka yang buta huruf ( Arisma, 2009). 
  • Berat badan adalah satu parameter yang memberikan gambaran masa tubuh. Masa tubuh sangat sensitive terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunya nafsu makan atau menurunnya jumlah makan yang dikonsumsi. 
  • Pada prinsipnya ada dua macam timbangan yaitu beam (lever)balance scales dan spring scale. Contoh beam balance ialah dancing, dan spring scale adalah timbangan pegas. Karena pegas mudah melar timbangan jenis spring scsle tidak dianjurkan untuk digunakan berulang kali, apalagi pada lingkungan yang bersuhu panas. 
  • Berat badan ideal ibu hamil sebenarnya tidak ada rumusnya, tetapi rumusannya bisa dibuat yaitu dengan dasar penambahan berat ibu hamil tiap minggunya yang dikemukakan oleh para ahli berkisar antara 350-400 gram, kemudian berat badan yang ideal untuk seseorang agar dapat menopang beraktifitas normal yaitu dengan melihat berat badan yang sesuai dengan tinggi badan sebelum hamil, serta umur kehamilan sehingga rumusnya dapat dibuat. 
  • Dengan berbekal beberapa rumus ideal tentang berat badan, saya (penulis) dapat kembangkan menjadi rumus berat badan ideal untuk ibu hamil yaitu sebagai berikut : Dimana penjelasannya adalah BBIH adalah Berat Badan Ideal Ibu Hamil yang akan dicari. BBI = ( TB – 110) jika TB diatas 160 cm (TB – 105 ) jika TB dibawah 160 cm. Berat badan ideal ini merupakan pengembangan dari (TB-100) oleh Broca untuk orang Eropa dan disesuaikan oleh Katsura untuk orang Indonesia. UH adalah Umur kehamilan dalam minggu. Diambil perminggu agar kontrol faktor resiko penambahan berat badan dapat dengan dini diketahui. 0.35 adalah Tambahan berat badan kg per minggunya 350-400 gram diambil nilai terendah 350 gram atau 0.35 kg . Dasarnya diambil nilai terendah adalah penambahan berat badan lebih ditekankan pada kualitas (mutu) bukan pada kuantitas (banyaknya) (Supriasa, 2002). 
3.Pengukuran Tinggi Badan 
  • Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Disamping itu tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan , factor umur dapat dikesampingkan. Ibu hamil pertama sangat membutuhkan perhatian khusus. 
  • Pengukuran tinggi badan bermaksud untuk menjadikanya sebagai bahan menentukan status gizi. Status gizi yang ditentukan dengan tinggi badan tergolong untuk mengukur pertumbuhan linier. Pertumbuhan linier adalah pertumbuhan tulang rangka, terutama rangka extrimitas (tungai dan lengan). Untuk tinggi badan peranan tungkai yang dominan. 
  • Pengukuran tinggu badan orang dewasa, atau yang sudah bisa berdiri digunakan alat microtoise (baca: mikrotoa) dengan skala maksimal 2 meter dengan ketelitian 0,1 cm. Apabila tidak tersedia mikrotoise dapat digunakan pita fibreglas (pita tukang jahit pakaian) dengan bantuan papan data dan tegak lurus dengan lantai. Pengukuran dengan pita fibreglass seperti ini harus menggukan alat bantu siku-siku. Persyaratan tempat pemasangan alat adalah didinding harus datar dan rata dan tegak lurus dengan lantai. Dinding yang memiliki banduk di bagian bawah (bisanya pada lantai keramik) tidak bisa digunakan. Hal yang harus diperhatikan saat pemasangan mikrotoise adalah saat sudah terpasang dan direntang maksimal ke lantai harus terbaca pada skala 0 cm. 
  • A.Cara Pengukuran Berdiri membelakangi dinding dimana microtoie terpasang dengan posisi siap santai (bukan siap militer), tangan disamping badan terkulai lemas, tumit, betis, pantat, tulang belikat dan kepala menempel di dinding. Pandangan lurus ke depan. Sebagai pegukur harus diperiksa ketentuan ini sebelum membaca hasil pengukuran. Tarik microtiose ke bawah sampai menempel ke kepala. Bagi terukur yang berjilbab agak sedikit ditekan agar pengaruh jilbab bisa diminimalisir. Untuk terukur yang memakai sanggul harus ditanggalkan lebih dahulu atau digeser ke bagia kiri kepala. Saat pengkuran, sandal, dan topi harus dilepas. Baca hasil ukur pada posisi tegak lurus dengan mata (sudut pandang mata dan skala microtoise harus sudut 90 derajat). Pada gambar di atas, apabila terukur lebuh tinggi dai Pengukur, maka pengukur harus menggunakan alat peningi agar posisi baca tegak lurus. Bacaan pada ketelitian 0,1 cm, artinya apabila tinggi terukur 160 cm, harus ditulis 160,0 cm (koma nol harus ditulis). Tinggi badan kurang dari 145 cm atau kurang merupakan salah satu risti pada ibu hamil. Luas panggul ibu dan besar kepala janin mungkin tidak proporsional, dalam hal ini ada dua kemungkinan yang terjadi: a.Panggul ibu sebagai jalan lahir ternyata sempit dengan janin/kepala tidak besar. b.Panggul ukuran normal tetapi anaknya besar/kepala besar. Pada kedua kemungkinan itu, bayi tidak dapat lahir melalui jalan lahir biasa, dan membutuhkan operasi Sesar. 
4.Indeks Masa Tumbuh 
  • Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengarui produktif kerja. Laporan FAO /WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan normal orang dewasa ditentukan oleh Body Mass Index (BMI). 
  • Di Indonesia istila Body Mass Index diterjemahkan menjadi Indekx Masa Tubuh (IMT) merupakan alat yang sederhana untu memantau status gizi orang dewasa khusunya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Berat badan dilihat dari Quatelet atau body mass Index (IMT). 
  • Ibu hamil dengan berat badan dibawah normal sering dihubungkan dengan abnormalitas kehamilan, berat badan lahir rendah. Sedangkan berat badan overweight meningkatkan resiko atau terjadi kesulitan dalam persalinan. Indeks massa tubuh (IMT) merupakan rumus matematis yang berkaitan dengan lemak tubuh orang dewasa (Arisman, 2009). 
  • Penilaian Indeks Masa Tumbuh diperoleh dengan memperhitungkan berat badan sebelum hamil dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat (Yuni, 2009). 
  • Rumus ini hanya cocok diterapkan pada mereka yang berusia antara 19-70 tahun, berstruktur tulang belakang normal, bukan atlet atau binaragawan. 
Tabel 2.2 Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan IMT 
Status Gizi 
  1. IMT KKP I < 16 
  2. KKP II 16,0 -16,9 
  3. KKP III 17,0 - 18,4 
  4. Normal ≤18,5 - < 25 
  5. Obesitas I 25 - 29,9 
  6. Obesitas II 30 – 40 
  7. Obesitas III >40
Sumber: Arisman, 2009
 
Hasil gambar untuk ibu hamil kurang energi kronik

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURANG ENERGI KRONIS PADA IBU HAMIL

1. Faktor Sosial Ekonomi
  • Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah tingkat sosial ekonomi (FKM UI, 2007). Ekonomi seseorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang akan dikonsumsi sehari-harinya. Seseorang dengan ekonomi yang tinggi kemudian hamil maka kemungkinan besar sekali gzi yang dibutuhan tercukupi ditambah lagi adanya pemeriksaan membuat gizi ibu hamil semakin terpantau (Weni,2010). Sosial ekonomi merupakan gambaran tingkat kehidupan seseorang dalam masyarakat yang ditentukan dengan variabel pendapatan, pendidikan dan pekerjaan, karena ini dapat mempengaruhi aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan (Notoatmodjo, 2006).
a.Pendidikan
  • Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik (Umar, 2005). Faktor pendidikan mempengaruhi pola makan ibu hamil, tingkat pendidikan yang lebih tinggi diharapkan pengetahuan atau informasi tentang gizi yang dimiliki lebih baik sehingga bisa memenuhi asupan gizinya (FKM UI, 2007).
  • Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan ibu adalah pendidikan formal ibu yang terakhir yang ditamatkan dan mempunyai ijazah dengan klasifikasi tamat SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi dengan diukur dengan cara dikelompokkan dan dipresentasikan dalam masing-masing klasifikasi (Depdikbud, 1997).
b.Pekerjaan
  • Pekerjaan adalah sesuatu perbuatan atau melakukan sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah guna untuk kehidupan (Kamus Besar Indonesia, 2008). Ibu yang sedang hamil harus mengurangi beban kerja yang terlalu berat karena akan memberikan dampak kurang baik terhadap kehamilannya (FKM UI, 2007). Kemampuan bekerja selama hamil dapat dipengaruhi oleh peningkatan berat badan dan perubahan sikap (Benson Ralph C, 2008). Resiko-resiko yang berhubungan dengan pekerjaan selama kehamilan termasuk :
  1. Berdiri lebih dari 3 jam sehari.
  2. Bekerja pada mesin pabrik terutama jika terjadi banyak getaran atau membutuhkan upaya yang besar untuk mengoperasikannya.
  3. Tugas-tugas fisik yang melelahkan seperti mengangkat, mendorong dan membersihkan.
  4. Jam kerja yang panjang (Curtis Glade B, 1999 ).
  • Kriteria pekerjaan dapat dibedakan menjadi buruh/pegawai tidak tetap, swasta, PNS/ABRI, tidak bekerja/ibu rumah tangga (Nursalam, 2001).
c.Pendapatan
  • Penerimaan baik berupa uang maupun barang, baik dari pihak lain maupun pihak sendiri dari pekerjan atau aktivitas yang kita lakukan dan dengan dinilai sebuah uang atas harga yang berlaku pada saat ini. Pendapatan seorang dapat dikatakan meningkat apabila kebutuhan pokok seorangpun akan meningkat. Suatu kegiatan yang dilakukan untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan tersebut tidak ada yang mengatur dan dia bebas karena tidak ada etika yang mengatur.
  • Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga, harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat penggelolaan sumber daya lahan dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya. Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan. Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang diperoleh dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula prosentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran dan beberapa jenis bahan makanan lainnya (FKM UI, 2007).
  • Berdasarkan survei pendapatan dan pengeluaran rumah tangga tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, pendapatan untuk pedesaan dibedakan menjadi 3 golongan yaitu :
  1. Pendapatan rendah di bawah Rp. 790.000,-
  2. Pendapatan sedang Rp.790.000,- sampai. Rp.1.270.000,-
  3. Pendapatan tinggi di atas Rp. 1.270.000,-
(www.Informasi Upah Minimum Regional (UMR) Jombang Tahun 2010, 2011)

2.Faktor Jarak Kelahiran
  • Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak kelahiran dibawah 2 tahun. Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan energi yang cukup untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya). Dengan mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi berikut yang dikandung (Baliwati, 2006). Berbagai penelitian membuktikan bahwa status gizi ibu hamil belum pulih sebelum 2 tahun pasca persalinan sebelumnya, oleh karena itu belum siap untuk kehamilan berikutnya (FKM UI, 2007). Selain itu kesehatan fisik dan rahim ibu yang masih menyusui sehingga dapat mempengaruhi KEK pada ibu hamil. Ibu hamil dengan persalinan terakhir ≥ 10 tahun yang lalu seolah-olah menghadapi kehamilan atau persalinan yang pertama lagi. Umur ibu biasanya lebih bertambah tua. Apabila asupan gizi ibu tidak terpenuhi maka dapat mempengaruhi KEK pada ibu hamil.
  • Kriteria jarak kelahiran dibagi menjadi 2, yaitu :
  1. Resiko rendah (≥ 2 tahun sampai < 10 tahun).
  2. Resiko tinggi (< 2 tahun atau ≥ 10 tahun) (Rochjati P, 2003).

3. Faktor Paritas
  • Paritas (jumlah anak) merupakan keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan. Paritas juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil. Paritas merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil konsepsi. Perlu diwaspadai karena ibu pernah hamil atau melahirkan anak 4 kali atau lebih, maka kemungkinan banyak akan ditemui keadaan :
  1. Kesehatan terganggu : anemia, kurang gizi.
  2. Kekendoran pada dinding perut dan dinding rahim.
  • Kriteria paritas (jumlah anak) dibagi menjadi 2, yaitu :
  1. Partas rendah (< 4x kelahiran).
  2. Paritas tinggi (≥ 4x kelahiran).
  • Paritas (jumlah anak) merupakan keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan. Paritas juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil. Paritas merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil konsepsi. Perlu diwaspadai karena ibu pernah hamil atau melahirkan anak 4 kali atau lebih, maka kemungkinan banyak akan ditemui keadaan :
  1. Kesehatan terganggu : anemia, kurang gizi.
  2. Kekendoran pada dinding perut dan dinding rahim.
  • Kriteria paritas (jumlah anak) dibagi menjadi 2, yaitu :
  1. Partas rendah (< 4x kelahiran).
  2. Paritas tinggi (≥ 4x kelahiran) (Roechjati P, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alimul, A.H. 2008. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika
  2. Alimul, A.H. 2009. Metode Penelitian Kebidanan Teknnik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika
  3. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta
  4. Depdikbud. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka
  5. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
  6. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
  7. Prawirohardjo,Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono
  8. Rukiyah. 2009. Asuhan Kebidanan I (Kehamilan). Jakarta: TIM
  9. Suyanto. 2009. Riset Kebidanan Metodologi dan Aplikasi. Jogjakarta: Mitra Cendikia Press
  10. Yuni. 2009. Perawatan Ibu Hamil. Jogyakarta : Fitramaya
  11. Weni. 2010. Gizi Ibu Hamil. Jogyakarta : Muha Medika
  12. Depkes RI. 1996. Pedoman Penaggulangan Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis. Jakarta : Direktorat Pembinaan Kesehatan Masyarakat
  13. Arisman. 2007. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC
  14. Proverawati. 2009. Buku Ajar Gizi Untuk Kebidanan. Jogyakarta : Muha Medika
  15. Anonym. 2011. Upah Minimum Regional (http://Informasi Upah Minimum Regional (UMR) Jombang Tahun 2010,2011.com/)
  16. Rochjati,Poedji. 2003. Skrining Antenatal Pada Ibu Hamil. Surabaya : FK UNAIR
  17. Arisman. 2009. Gizi Dalam Daur Keidupan. Jogyakarta : Muha Medika