STANDAR ASUHAN KEBIDANAN
A. Pengertian
Standar asuhan
kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan keputusan dan tindakan
yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup
praktiknya berdasarkan llmu dan kiat kebidanan. Mulai dari pengkajian,
perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan, perencanaan, implementasi
evaluasi dan pencatatan asuhan kebidanan.
STANDAR I : Pengkajian
a. Pernyataan standar
Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
b. Kriteria pengkajian
1. data tepat, akurat dan lengkap
2. Terdiri dari data subjektif (hasil anamnesa : Biodata, keluhan
utama, riwayat obstetri, riwayat kesehatan dan latar belakang sosial
budaya)
STANDAR II : Perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan
a. Pernyataan Standar
Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian,
menginterpretasikannya secara akurat dan logis untuk menegakkan diagnosa
dan masalah kebidanan yang tepat.
b. Kriteria perumusan diagnosa dan atau masalah
1. Diagnosa sesuai dengan nomenklatur kebidanan
2. Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien
3. Dapat diselesaikan dengan asuhan kebidanan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan
STANDAR III : Perencanaan
a. Pernyataan standar
Bidan merencanakan suhan kebidanan berdasarkan diagnosa dan masalah yang ditegakkan.
b. Kriteria perencanaan
1. Rencana tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan kondisi
klien, tindakan segera, tindakan antisipsi dan asuhan secara
komprehensif.
2. Melibatkan klien / pasien dan keluarga
3. Mempertimbangkan kondisi psikologi, sosial budaya klien
4. Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien
berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa asuhan yang diberikan
bermanfaat untuk klien
5. Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumberdaya serta fasilitas yang ada
STANDAR IV : Implementasi
a. Pernyataan Standar
Bidan melaksanakan rencan asuhan kebidanan secara komprehensif.
Efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien
dalam bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Dilaknsakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.
b. Kriteria
1. Memperhatikan keunikan klien sebagai makhluk bio-psiko-sosial – spiritual – kultural
2. Setiap tindakan suhan harus mendapatkan persetujuan dari klien atau keluarganya
3. Melaksanakan tindakan asuhan berdasarkan evidence based
4. Melibatkan klien dalam setiap tindakan
5. Menjaga privacy klien
6. Melaksanakan prinsip pencegahan infeksi
7. Mengikuti perkembangan kondisi klien secara berkesinambungan
8. Menggunakan sumberdaya, sarana dan fasilitas yang ada dan sesuai
9. Melakukan tindakan sesuai standar
10. Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan
STANDAR V : Evaluasi
a. Pernyataan Standar
Bidan melakukan evaluasi secara sistimatis dan berkesinambungan untuk
melihat kefektifan dari asuhan yang sudah diberikan sesuai dengan
perubahan perkembangan kondisi klien.
b. Kriteria evaluasi
1) Penilaian dilakukan segera setelh selesai melaksanakan asuhan sesuai kondisi klien
2) Hasil evaluasi segera dicatat dan didokumentasikan pada klien
3) Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar
4) Hasil evaluasi ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi klien.
STANDAR VI : Pencatatan asuhan kebidanan
a. Pernyataan standar
Bidan melakukan pencatatan secara lengkap akurat, singkat, dan jelas
mengenai keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam memberikan
asuhan kebidanan.
b. Kriteria pencatatan asuhan kebidanan
1. Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada formulir yang tersedia (rekam medis/KMS?status pasien/KIA)
2. Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP
3. S adalah data subyektif, mencatat hsil anamnesa
4. O adalah data obyektif, mencatat hasil pemeriksaan
5. A adalah data hasil analisa, mencatata diagnosa dan masalah kebidanan
6. P adalah pentalaksanaan mencatat selutuh perencanaan dan
penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif,
tindakan segera, tindakan secara komprehensif : penyuluhan, dukungan,
kolaborasi evaluasi / follow up dan rujukan.
STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN
STANDAR I : Falsafah dan Tujuan
Pelayanan kebidanan dilaksanakan sesuai dengan filosofi bidan
Definisi Operasional
1. Dalam menjalankan perannya bidan memiliki keyakinan yang dijadikan panduan dalam memberikan asuhan
2. Tujuan utama asuhan kebidanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi
(mengurangi kesakitan dan kematian). Asuhan kebidanan berfokus pada
promosi persalinan normal, pencegahan penyakit, pencegahan cacat pada
ibu dan bayi, promosi kesehatan yang bersifat holistik, diberikan dengan
cara yang kreatif, fleksibel, suportif, peduli, bimbingan, monitor dan
pendidikan berpusat pada perempuan.
STANDAR II : Administrasi dan pengelolaan
a. Ada pedoman pengelolaan pelayanan yang mencerminkan mekanisme kerja di unit pelayanan tersebut yang disahkan oleh pimpinan
b. Ada standar pelayanan yang dibuat mengacu pada pedoman standar alat,
standar ruangan, standar ketenagaan yang telah tindakan disahkan oleh
pimpinan.
c. Ada standar prosedur tetap untuk setiap jenis kegiatan/kebidanan yang disahkan oleh pimpinan
d. Ada rencana / program kerja disetiap insttusi pengelolaan yang mengacu ke institusi induk.
e. Ada bukti tertulis terselenggaranya pertemuan berkala secara teratur, dilengkapi dengan daftar hadir dan notulen rapat.
f. Ada naskah kerjasama, program praktik dari institusi yang
menggunakan lahan praktik, program pengajaran dan penilaian klinik.
g. Ada bukti administrasi
STANDAR III : Staf dan pimpinan
1. Tersedia SDM sesuai dengan kebutuhan baik kualifikasi maupun jumlah
2. Mempunyai jdwal pengaturan kerja harian
3. ada jadwal dinas sesuai dengan tanggung jawab dan uraian kerja
4. ada jdwal bidan pengganti dengan peran fungsi yang jelas
5. Ada data personil yang bertugas di ruangan tersebut
STANDAR IV : Fasilitas da peralatan
1. Tersedia sarana dan peralatan untuk mencapai tujuan pelayanan kebidanan sesuai standar
2. Tersedianya peralatan yang sesuai dalam jumlah dan kualitas
3. Ada sertifikasi untuk penggunaan alat-alat tertentu
4. Ada prosedur permintaan dan penghapusan alat.
STANDAR V : Kebijakan dan prosedur
1. Ada kebijakan tertulis tentang prosedur pelayanan dan standar pelayanan yang disahkan oleh pimpinan
2. Ada prosedur rekruitmen tenaga yang jelas
3. Ada regulasi internal sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk mengatur hak dan kewajiban
4. Ada kebijakan dan prosedur pembinaan personal
STANDAR VI : Pengembangan staf dan program pendidikan
1. Ada program pembinaan staf dan program pendidikan secara berkesinambungan
2. Ada program orientasi dan pelatihan bagi tenaga bidan/personil baru dan lama agar dapt beradaptasi dengan pekerjaan
3. Ada data hasil identifikasi kebutuhan pelatihan dan evaluasi hasil pelatihan
STANDAR VII : Standar asuhan
1. Ada standar manajemen asuhan kebidanan (SMAK) sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan kebidanan
2. Ada format manajemen kebidanan yang terdapat pada catatan medik
3. Ada pengkajian asuhan kebidanan bagi setiap klien
4. Ada diagnosa kebidanan
5. Ada rencana asuhan kebidanan
6. Ada dokumen tertulis tentang tindakan kebidanan
7. Ada catatan perkembangan klien dalam asuhan kebidanan
8. Ada evaluasi dalam memberikan asuhan kebidanan
9. Ada dokumentasi untuk kegiatan manajemen kebidanan
STANDAR VIII : Evaluasi dan pengendalian mutu
1. Ada program atau rencana tertulis peningkatan mutu pelayanan kebidanan
2. Ada program atau rencana tertulis untuk melakukan penilaian terhadap standar asuhan kebidanan
3. Ada bukti tertulis dari risalah rapat sebagai hasil dari kegiatan pengendalian mutu asuhan dan pelayanan kebidanan
4. Ada bukti tertulis tentang pelaksanaan evaluasi pelayanan dan rencana tindak lanjut
5. Ada laporan hasil evaluasi yang dipublikasikan secara tertulis kepada semua staf pelayanan kebidanan
KEWENANGAN BIDAN KOMUNITAS
1. Memberikan pelayanan kebutuhan sebagai tenaga terlatih
2. Meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat
3. Meningkatkan upaya penerimaan gerakan KB
4. Memberikan pendidikan dukun beranak
5. Meningkatkan sstem rujukan
6. Sebagai pelayanan asuhan / pelayanan KB
7. Sebagai pengelola pelayanan KIA / KB
8. Sebagai pendidik klien, keluarga, masyarakat dan calon nakes
9. Sebagai pelaksana penelitian dalam pelayanan
FUNGSI UTAMA BIDAN BAGI MASYARAKAT
1. Mengupayakan kesehatan ibu dan bayinya
2. Bidan mempunyai power untuk mempengaruhi dan memberikan asuhan kebidanan
FUNGSI UTAMA PROFESI KEBIDANAN
Untuk mengupayakan kesejahteraan ibu dan bayinya
RUANG LINGKUP ASUHAN YANG DIBERIKAN
1. Pengetahuan umum, ketrampilan dan perilaku yang berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial. Kesehatan masyarakat dan etik
2. Prakonsepsi, KB dan menyusui
3. Asuhan konseling selama kehamilan
4. Asuhan pada ibu nifas dan menyusui
5. Asuhan pada BBL
6. Asuhan pada persalinan dan kelahiran
7. Asuhan pada bayi dan balita
8. Kebidanan komunitas
9. Aasuhan pada ibu/wanita
REGISTRASI PRAKTIK KEBIDANAN KOMUNITAS
1. Pengertian
Registrasi merupakan pengakuan kompetensi sebagai tenaga kesehatan
Uji kompetensi dilaksanakan oleh majelis tenaga kesehatan propinsi
(MTKP) yang ditetapkan oleh Gubernur. Oleh karena itu di Jawa Timur
belum terbentuk MTKP. Dinas kesehatan propinsi bersama-sama organisasi
profesi dan forum komunikasi pendidikan keperawatan dan kebidanan
(FKPKK) melaksanakan uji kemampuan pengetahuan bagi tenaga kesehatan
(perawat dan bidan)
a. Persyaratan uji kemampuan pengetahuan
1) Fotokopi Ijazah dilegalisir
2) Pasfoto 4 x 6 : 2 lembar
b. Persyaratan registrasi baru
1) Fotokopi ijazah dilegalisir
2) Fotokopi lafal sumpah
3) Surat keterangan sehat
4) Pasfoto 3 x 4 : 2 lembar, 4 x 6 : 2 lembar
c. Persyaratan registrasi ulang
1) Fotokopi ijazah dilegalisir
2) Surat keterangan sehat
3) Fotokopi SIP / SIB / SP lama
4) Pasfoto 3 x 4 : 2 lembar, 4 x 6 : 2 lembar
Uji kemampuan masih diberlakukan bagi tenaga perawat dan bidan lulusan
SPK, P2B, dan D-III keperawatan atau kebidanan yang belum mempunyai SIP
atau SIB dan belum diberlakukan bagi lulusan S1 keperawatan atau
kebidanan
KODE ETIK BIDAN
1. Deskripsi kode etik bidan Indonesia
Kode etik merupakan suatu ciri profesi yang bersumber merupakan
nilai-nilai internal dan eksternal suatu disiplin dan merupakan
pernyataan komprehensif suatu profesi yang memberikan tuntutan bagi
anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi.
2. Kode Etika Bidan Indonesia
a. Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat
1) Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan
mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya
2) Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi
harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan
3) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada
peran, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga
dan masyarakat.
4) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya
senantiasa mendahulukan kepentingan klien, menghormati hak klien dan
nilai-nilai yang dianut.
5) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya
mendahulukan kepentingan klien, keluarga dan masyarakat dengan identitas
yang sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang
dimilikinya
6) Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang
serasi dalam hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi
masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal.
b. Kewajiban bidan terhadap tugasnya
1) Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien,
keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang
dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien, kelurga dan masyarakat
2)
Setiap bidan berkewajiban memberikan pertolongan sesuai dengan
kewenangan dalam mengambil keputusan termasuk mengadakan konsultasi dan /
rujukan
3) Setiap bidan harus menjamin kerahsiaan keterangan yang
didapat dan/atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh
pengadilan atau diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien
c. Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya
1) Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk menciptakan suasana kerja yang serasi
2) Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baik terhadp sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.
d. Kewajiban bidan dalam profesinya
1) Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra
profesi dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan memberikan
pelayanan yang bermutu kepada masyarakat.
2) Setiap bidan wajib
senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesinya
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
3) Setiap
bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan
sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu citra profesinya
e. Kewajiban bidan terhadap diri sendiri
1) Setiap bidan wajib memelihara kesehatan agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik
2) Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan perkembangan ilmu kesehatan dan teknologi
f. Setiap bidan bertanggung jawab terhadap pemerintah, nusa, bangsa dan tanah air
1) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan
ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam
pelayanan kesehatan reproduksi, keluarga berencana dan kesehatan
keluarga
2) Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan
menyumbangkan pemikiran kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu dan
jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA/KB dan kesehatan
keluarga
Selasa, 07 Juni 2016
Makalah Hernia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. .LATAR BELAKANG
Penyakit hernia, atau yang lebih dikenal dengan turun berok, adalah penyakit akibat turunnya buah zakar seiring melemahnya lapisan otot dinding perut. Penderita hernia, memang kebanyakan laki-laki, terutama anak-anak. Kebanyakan penderitanya akan merasakan nyeri, jika terjadi infeksi di dalamnya, misalnya, jika anak-anak penderitanya terlalu aktifBerasal dari bahasa Latin, herniae, yaitu menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus.Hernia yang terjadi pada anak-anak, lebih disebabkan karena kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Sementara pada orang dewasa, karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan karena faktor usia yang menyebabkan lemahnya otot dinding perut.Penyakit hernia banyak diderita oleh orang yang tinggal didaerah perkotaan yang notabene yang penuh dengan aktivitas maupun kesibukan dimana aktivitas tersebut membutuhkan stamina yang tinggi. Jika stamina kurang bagus dan terus dipaksakan maka, penyakit hernia akan segera menghinggapinya.Penjelasan mengenai penyakit hernia dan proses keperawatannya akan dibahas pada bab selanjutnya.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Apa dan bagaimana pengertian, etiologi, klasifikasi, stadium, pathway, patofisiologi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, dan asuhan keperawatan pada klien dengan hernia.
1.3. .TUJUAN
Mahasiswa mampu untuk memahami pengertian, etiologi, klasifikasi, stadium, pathway, patofisiologi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, dan asuhan keperawatan pada klien dengan hernia.
PENDAHULUAN
1.1. .LATAR BELAKANG
Penyakit hernia, atau yang lebih dikenal dengan turun berok, adalah penyakit akibat turunnya buah zakar seiring melemahnya lapisan otot dinding perut. Penderita hernia, memang kebanyakan laki-laki, terutama anak-anak. Kebanyakan penderitanya akan merasakan nyeri, jika terjadi infeksi di dalamnya, misalnya, jika anak-anak penderitanya terlalu aktifBerasal dari bahasa Latin, herniae, yaitu menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus.Hernia yang terjadi pada anak-anak, lebih disebabkan karena kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Sementara pada orang dewasa, karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan karena faktor usia yang menyebabkan lemahnya otot dinding perut.Penyakit hernia banyak diderita oleh orang yang tinggal didaerah perkotaan yang notabene yang penuh dengan aktivitas maupun kesibukan dimana aktivitas tersebut membutuhkan stamina yang tinggi. Jika stamina kurang bagus dan terus dipaksakan maka, penyakit hernia akan segera menghinggapinya.Penjelasan mengenai penyakit hernia dan proses keperawatannya akan dibahas pada bab selanjutnya.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Apa dan bagaimana pengertian, etiologi, klasifikasi, stadium, pathway, patofisiologi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, dan asuhan keperawatan pada klien dengan hernia.
1.3. .TUJUAN
Mahasiswa mampu untuk memahami pengertian, etiologi, klasifikasi, stadium, pathway, patofisiologi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, dan asuhan keperawatan pada klien dengan hernia.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN
1. Secara umum Hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994).Hernia adalah : tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dincling rongga dimana organ tersebut seharusnya berada yang didalam keadaan normal tertutup.
2. Hernia atau usus turun adalah penonjolan abnormal suatu organ/ sebagian dari organ melalui lubang pada struktur disekitarnya. Hernia inguinalis adalah penonjolan hernia yang terjadi pada kanalis inguinal (lipat paha). Operasi hernia adalah tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengembalikan isi hernia pada posisi semula dan menutup cincin hernia.Pengertian Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek konsenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246).
3. Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari, 2000 : 216). Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253).
4. Hernia inguinalis adalah hernia isi perut yang tampak di daerah sela paha (regio inguinalis). (Oswari, 2000 : 216).
2.2. KLASIFIKASI
Banyak sekali penjelasan mengenai klasifikasi hernia menurut macam, sifat dan proses terjadinya. Berikut ini penjelasannya :
Macam-macam hernia :
1. Macam-macam hernia ini di dasarkan menurut letaknya, seperti :1.Inguinal. Hernia inguinal ini dibagi lagi menjadi :
• Indirek / lateralis: Hernia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan melewati korda spermatikus melalui kanalis inguinalis. Ini umumnya terjadi pada pria daripada wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat menjadi sangat besar dan sering turun ke skrotum. Umumnya pasien mengatakan turun berok, burut atau kelingsir atau mengatakan adanya benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang pada waktu tidur dan bila menangis, mengejan atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali.
• Direk / medialis: Hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih umum pada lansia. Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang lemah ini karena defisiensi kongenital. Hernia ini disebut direkta karena langsung menuju anulus inguinalis eksterna sehingga meskipun anulus inguinalis interna ditekan bila pasien berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai ke skrotum, maka hanya akan sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan testis dan funikulus spermatikus dapat dipisahkan dari masa hernia. Pada pasien terlihat adanya massa bundar pada anulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi ireponibilis.2.Femoral : Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita daripada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang membesar dan secara bertahap menarik peritoneum dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke dalam kantung. Ada insiden yang tinggi dari inkarserata dan strangulasi dengan tipe hernia ini. 3.Umbilikal : Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan karena peningkatan tekanan abdominal. Ini biasanya terjadi pada klien gemuk dan wanita multipara. Tipe hernia ini terjadi pada sisi insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat karena masalah pascaoperasi seperti infeksi, nutrisi tidak adekuat, distensi ekstrem atau kegemukan.4.Incisional : batang usus atau organ lain menonjol melalui jaringan parut yang lemah.b.Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas :1.Hernia bawaan atau kongenital Patogenesa pada jenis hernia inguinalis lateralis (indirek): Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8 kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis tersebut akan menarik peritonium ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal, kanalis ini tidak menutup. Karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka. Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena merupakan lokus minoris resistensie, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra-abdominal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita.2.Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat).c.Menurut sifatnya, hernia dapat disebut :1Hernia reponibel/reducible, yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.2Hernia ireponibel, yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peri tonium kantong hernia. Hernia ini juga disebut hernia akreta (accretus = perlekatan karena fibrosis). Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus.3Hernia strangulata atau inkarserata (incarceratio = terperangkap, carcer = penjara), yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi.Secara klinis “hernia inkarserata” lebih dimaksudkan untuk hernia ireponibel dengan gangguan pasase, sedangkan gangguan vaskularisasi disebut sebagai “hernia strangulata”. Hernia strangulata mengakibatkan nekrosis dari isi abdomen di dalamnya karena tidak mendapat darah akibat pembuluh pemasoknya terjepit. Hernia jenis ini merupakan keadaan gawat darurat karenanya perlu mendapat pertolongan segera.
2.3 ETIOLOGI
a. Hernia Inguinalis / CongenitalHernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Lebih banyak pada pria ketimbang pada wanita. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut (karena kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan pada saat defekasi dan miksi misalnya akibat hipertropi prostat) dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Adanya prosesus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan faktor lain seperti anulus inguinalis yang cukup besar. Tekanan intraabdominal yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertropi prostat, konstipasi dan ansietas sering disertai hernia inguinalis.Secara patofisiologi hernia inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital. Hernia inkarserata terjadi bila usus yang prolaps itu menyebabkan konstriksi suplai darah ke kantong skrotum, kemudian akan mengalami nyeri dan gelala-gejala obstruksi usus (perut kembung, nyeri kolik abdomen, tidak ada flatus, tidak ada feces, muntah) Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n.ilioinguinalis dan n.iliofemoralis setelah apendiktomi. Processus vaginalis peritoneum persisten Testis tidak samapi scrotum, sehingga processus tetap terbuka Penurunan baru terjadi 1-2 hari sebelum kelahiran, sehingga processus belum sempat menutupdan pada waktu dilahirkan masih tetap terbuka. Predileksi tempat: sisi kanan karena testis kanan mengalami desensus setelah kiri terlebih dahulu. Dapat timbul pada masa bayi atau sesudah dewasa. Hernia indirect pada bayi berhubungan dengan criptocismus dan hidrocele
b. Hernia FemoralisUmumnya dijumpai pada wanita tua, kejadian pada perempuan kira-kira 4 kali laki-laki. Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus femoralis. Secara patofisiologis peninggian tekanan intra abdominal akan mendorong lemak pre peritoneal ke dalam kanalis femoralis yang akan menjadi pembuka jalan terjadinya hernia. Faktor penyebab lainnya adalah kehamilan multipara, obesitas dan degenerasi jaringan ikat karena usia lanjut. Ada factor predisposisiKelemahan struktur aponeurosis dan fascia tranversa Pada orang tua karena degenerasi/atropiTekanan intra abdomen meningkatPekerjaan mengangkat benda-benda beratBatuk kronik Gangguan BAB, missal struktur ani, feses keras Gangguan BAK, mis: BPH, veskolitiasisSering melahirkan: hernia femoralis (karisyogya.blog.m3-access.com).
2.4. .PATOFISIOLOGI
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batukyang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ-organ selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren.
2.5. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Terapi konservatif/non bedah meliputi :
• Pengguanaan alat penyangga bersifat sementara seperti pemakaian sabuk/korset pada hernia ventralis.
• Dilakukan reposisi postural pada pasien dengan Hernia inkaseata yang tidak menunjukkan gejala sistemik.
2. Terapi umum adalah terapi operatif.
3. Jika usaha reposisi berhasil dapat dilakukan operasi herniografi efektif.
4. Jika suatu operasi daya putih isi Hernia diragukan, diberikan kompres hangat dan setelah 5 mennit di evaluasi kembali
5. Jika ternyata pada operasi dinding perut kurang kuat sebaiknya digunakan marleks untuk menguatkan dinding perut setempat
6. Teknik hernia plastik, endoskopik merupakan pendekatan dengan pasien berbaring dalam posisi trendelernberg 40 OC.
7. Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri, misalnya Asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak tinja untuk mencegah sembelit.
8. Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat sembelit dan mengadan selama BAB, hindari kopi kopi, teh, coklat, cola, minuman beralkohol yang dapat memperburuk gejala-gejala.
9. Hindari aktivitas-aktivitas yang berat.
2.6. KOMPLIKASI
• Hernia berulang,
• Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasien laki-laki,
• Pendarahan yang berlebihan / infeksi lluka bedah,
• Luka pada usus (jika tidak hati-hati),
• Setelah herniografi dapat terjadi hematoma,
• Fostes urin dan feses,
• Residip,
• Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi.
2.7. MANAGEMEN KEPERAWATAN
1. PengkajianPengkajian pasien Post operatif (Doenges, 1999) adalah meliputi :
• SirkulasiGejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
• Integritas ego Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
• Makanan / cairanGejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
• PernapasanGejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
• Keamanan Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
• Penyuluhan / PembelajaranGejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).B).Diagnosa Keperawatan yang sering munculPeriode post-operatif (Doenges, 1999).
• Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
• Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
• Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
• Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
2. Diagnosa perawatan Post Operasi (Doengoes 1999)1).Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.Tujuan : Nyeri hilang atau berkurangKriteria Hasil : - klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang-tanda-tanda vital normal-pasien tampak tenang dan rileks
• Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyerirasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
• Anjurkan klien istirahat ditempat tidurrasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri
• Atur posisi pasien senyaman mungkinrasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
• Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalamrasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
• Kolaborasi untuk pemberian analgetik.Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.2).Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.Tujuan : tidak ada infeksikriteria hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
• Luka bersih tidak lembab dan kotor.
• Tanda-tanda vital normal
INTERVENSI
• Pantau tanda-tanda vital.Rasional : Jika ada peningkatan tanda-tanda vital besar kemungkinan adanya gejala infeksi karena tubuh berusaha intuk melawan mikroorganisme asing yang masuk maka terjadi peningkatan tanda vital.
• Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.Rasional : perawatan luka dengan teknik aseptik mencegah risiko infeksi.\
• Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.Rasional : untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
• Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.Rasional : penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal membuktikan adanya tanda-tanda infeksi.
• Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.Rasional : antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.3).Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.Tujuan : pasien dapat tidur dengan nyamanKriteria hasil : - pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.- pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur- kualitas dan kuantitas tidur normal
1) Mandiri
a. Berikan kesempatan untuk beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari. Rasional : Karena aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat mengakibatkan kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan yang meningkatkan waktu tidur.
b. Hindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus Rasional : Risiko gangguan sensori, meningkatkan agitasi dan menghambat waktu istirahat.
c. Evaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari. Rasional : Peningkatan kebingungan, disorientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (sindrom sundowner) dapat melanggar pola tidur yang mencapai tidur pulas.
d. Lengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur. Katakan pada pasien bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur. Rasional : Pengatan bahwa saatnya tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan. Catatan : Penundaan waktu tidur mungkin diindikasikan untuk memungkin pasien membuang kelebihan energi dan memfasilitas tidur.
e. Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung. Rasional : Meningkatkan relaksasi dengan perasan mengantuk Turunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur. Rasional : Menurunkan kebutuhan akan bangun untuk pergi kekamar mandi/berkemih selama malam hari.
f. Putarkan musik yang lembut atau ”suara yang jernih” Rasional : Menurunkan stimulasi sensori dengan menghambat suara-suara lain dari lingkungan sekitar yang akan menghambat tidur nyeyak.
2) Kolaborasi
a. Berikan obat sesuai indikasi : Antidepresi, seperti amitriptilin (Elavil); deksepin (Senequan) dan trasolon (Desyrel). Rasional : Mungkin efektif dalam menangani pseudodimensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur, tetapi anti kolinergik dapat mencetuskan dan memperburuk kognitif dalam efek samping tertentu (seperti hipotensi ortostatik) yang membatasi manfaat yang maksimal.
b. Koral hidrat; oksazepam (Serax); triazolam (Halcion). Rasional : Gunakan dengan hemat, hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam mengatasi insomia atau sindrom sundowner.
c. Hindari penggunaan difenhidramin (Benadry 1).Rasional : Bila digunakan untuk tidur, obat ini sekarang dikontraindikasikan karena obat ini mempengaruhi produksi asetilkon yang sudah dihambat dalam otak pasien dengan DAT ini
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.Kriteria hasil : - perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.-pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.-Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
• Rencanakan periode istirahat yang cukup.Rasional : mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.
• Berikan latihan aktivitas secara bertahap.Rasional : tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.
• Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.Rasional : mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.
• Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.Rasional : menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.
BAB 3
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Hernia adalah : tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dincling rongga dimana organ tersebut seharusnya berada yang didalam keadaan normal tertutup.Hernia atau usus turun adalah penonjolan abnormal suatu organ/ sebagian dari organ melalui lubang pada struktur disekitarnya. Hernia inguinalis adalah penonjolan hernia yang terjadi pada kanalis inguinal (lipat paha). Operasi hernia adalah tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengembalikan isi hernia pada posisi semula dan menutup cincin hernia.Pengertian Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek konsenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246). Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari, 2000 : 216). Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253). Hernia inguinalis adalah hernia isi perut yang tampak di daerah sela paha (regio inguinalis). (Oswari, 2000 : 216).
DAFTAR PUSTAKA
Marilynn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.Diambil dari http:// andisetiadi.blogspot.com/2008/03/hernia asuhan keperawatanDiambil dari http:// khaidirmuhaj. Blogspot.com/2008/12/askep-herniaDiambil dari http :// perawat psikiatri. Blogspot. Com/2009/03/asuhan – keparawatan-pada-klien-dengan-hepatitis.html
Senin, 06 Juni 2016
Hipospadia
Makalah Hypospadia
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Hipospadia sendiri berasal dari dua
kata yaitu “hypo” yang berarti “di bawah” dan “spadon“ yang berarti keratan
yang panjang.
Hipospadia adalah suatu keadaan
dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah, bukan di ujung penis.
Hipospadia merupakan kelainan kelamin bawaan sejak lahir.
Hipospadia merupakan kelainan bawaan
yang terjadi pada 3 diantara 1.000 bayi baru lahir. Beratnya hipospadia
bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak di dekat ujung penis, yaitu pada
glans penis.
Bentuk hipospadia yang lebih berat
terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah batang penis atau pada pangkal
penis, dan kadang pada skrotum (kantung zakar) atau di bawah skrotum. Kelainan
ini seringkali berhubungan dengan kordi, yaitu suatu jaringan fibrosa yang
kencang, yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat ereksi.
1.2 Rumusan
Masalah
1.2.1 Apa
yang dimaksud dengan Hipospadia
1.2.2 Apa
penyebab dari Hipospadia
1.2.3 Bagaimana
pengkajian pasien pada dengan Hipospadia.
1.2.4 Apa
diagnosa keperawatan pasien dengan Hipospadia.
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk menjelaskan
tentang penyakit Hipospadia.
1.3.2 Untuk menjelaskan
penyebab dari Hipospadia
1.3.3 Untuk
menjelaskan pengkajian pasien dengan Hipospadia.
1.3.4 Untuk menjelaskan diagnose keperawatan
pasien gangguan Hipospadia.
1.4 Manfaat
1.4.1 Dapat menjelaskan
tentang penyakit Hipospadia.
1.4.2 Dapat menjelaskan
penyebab dari Hipospadia
1.4.3 Dapat
menjelaskan pengkajian pasien dengan Hipospadia.
1.4.4 Dapat menjelaskan diagnose keperawatan
pasien gangguan Hipospadia.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
Konsep Dasar
2.1 Pengertian
Hipospadia
adalah suatu keadaan dimana uretra terbuka di permukaan bawah penis, skrotum
atau peritonium. Hipospadia sendiri berasal dari dua kata yaitu “hypo” yang
berarti “di bawah” dan “spadon“ yang berarti keratan yang panjang
Hipospadia merupakan kelainan bawaan
yang terjadi pada 3 diantara 1.000 bayi baru lahir.
Menurut
refrensi lain definisi hipospadia, yaitu:
Hipospadia adalah suatu kelainan
bawaan congenital dimana meatus uretra externa terletak di permukaan ventral
penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glans penis).
(Arif Mansjoer, 2000 : 374).
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana
terjadi hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14
yang mengakibatkan orifisium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian ventral
penis antara skrotum dan glans penis. (A.H Markum, 1991 : 257).
Hipospadia adalah suatu kelainan
bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis.
(Ngastiyah, 2005 : 288).
Hipospadia adalah keadaan dimana
uretra bermuara pada suatu tempat lain pada bagian belakang batang penis atau
bahkan pada perineum ( daerah antara kemaluan dan anus ). (Davis Hull, 1994 ).
Hipospadia adalah salah satu kelainan
bawaan pada anak-anak yang sering ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya,
hanya pengelolaannya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli supaya
mendapatkan hasil yang memuaskan.
2.2 Etiologi
Penyebabnya
sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab
pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap
paling berpengaruh antara lain :
2.2.1 Gangguan dan ketidakseimbangan hormon
Hormon yang
dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin
(pria). Atau bisa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam
tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri
telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja
tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan
dalam sintesis hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2.2.2 Genetika
Terjadi
karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada
gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut
tidak terjadi.
2.2.3 Lingkungan
Biasanya
faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat
teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
2.3 Patofisiologi
Penyebab dari Hypospadia belum
diketahui secara jelas dan dapat dihubungkan dengan faktor genetik dan pengaruh
Hormonal. Pada usia gestasi Minggu ke VI kehamilan terjadi pembentukan genital,
pada Minggu ke VII terjadi agenesis pada moderm sehingga genital tubercel tidak
terbentuk, bila genital fold gagal bersatu diatas sinus urogenital maka akan
timbul Hypospadia.
Perkembangan urethra dalam utero
dimulai sekitar usia 8 minggu dan selesai dalam 15 minggu, urethra terbentuk
dari penyatuan lipatan urethra sepanjang permukaan ventral penis. Glandula
Urethra terbentuk dari kanalisasi furikulus ektoderm yang tumbuh melalui glands
untuk menyatu dengan lipatan urethra yang menyatu. Hypospadia terjadi bila penyatuan
digaris tengah lipatan urethra tidak lengkap sehingga meatus urethra terbuka
pada sisi ventral penis. Derajat kelainan letak ini antara lain seperti pada
glandular (letak meatus yang salah pada glans), Korona (pada Sulkus Korona),
penis (disepanjang batang penis), penuskrotal (pada pertemuan ventral penis dan
skrotum) dan perineal (pada perinium) prepusium tidak ada pada sisi ventral dan
menyerupai topi yang menutupi sisi darsal gland. Pita jaringan fibrosa yang
dikenal sebagai Chordee, pada sisi ventral menyebabkan kuruatura (lingkungan)
ventral dari penis. Pada orang dewasa, chordec tersebut akan menghalangi
hubungan seksual, infertilisasi (Hypospadia penoskrotal) atau (perineal)
menyebabkan stenosis meatus sehingga mengalami kesulitan dalam mengatur aliran
urine dan sering terjadi kriotorkidisme.
Klasifikasi Hypospadia adalah tipe
glandulan (balantik) yaitu meatus terletak pada pangkal penis, tipe distal
penil yaitu meatus terletak pada distal penis, tipe penil yaitu meatus terletak
antara perineal dan scrotum, tipe scrotal yaitu meatus terletak di scratum,
tipe perineal yaitu meatus terletak di perineal.
Komplikasi pada Hypospadia adalah
infertilisasi risiko hernia inguinalm gangguan psikososial.
2.4 Manifestasi
Klinis
2.4.1 Glans penis bentuknya lebih datar dan ada
lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra
eksternus.
2.4.2 Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah
penis, menumpuk di bagian punggung penis.
2.4.3 Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang
mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras
dari jaringan sekitar.
2.4.4 Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
2.4.5 Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum
tidak ada.
2.4.6 Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus
pada dasar dari glans penis.
2.4.7 Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga
penis menjadi bengkok.
2.4.8 Sering disertai undescended testis (testis
tidak turun ke kantung skrotum).
2.4.9 Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
2.5 Klasifikasi
Tipe hipospadia berdasarkan letak
orifisium uretra eksternum/ meatus :
2.5.1 Tipe sederhana/ Tipe anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari
tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands
penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan
suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau
meatotomi.
2.5.2 Tipe penil/ Tipe Middle
Middle
yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal.
Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya.
Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya.
2.5.3 Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe
scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu,
kadang disertai dengan skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya
testis tidak turun.
2.6 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik berupa
pemeriksaan fisik. Jarang dilakukan pemeriksaan tambahan untuk mendukung
diagnosis hipospadi. Tetapi dapat dilakukan pemeriksaan ginjal seperti USG
mengingat hipospadi sering disertai kelainan pada ginjal.
2.7 Komplikasi
Komplikasi dari hypospadia yaitu :
2.7.1
Infertility
2.7.2
Resiko
hernia inguinalis
2.7.3 Gangguan psikososial
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
1.1 Fisik
1.1.1 Pemeriksaan genetalia
1.1.2 Palpasi abdomen untuk melihat
distensi vesika urinaria atau pembesaran pada ginjal.
1.1.3 Kaji fungsi perkemihan
1.1.4 Adanya lekukan pada ujung penis
1.1.5 Melengkungnya penis ke bawah dengan
atau tanpa ereksi
1.1.6 Terbukanya uretra pada ventral
1.1.7 Pengkajian setelah pembedahan :
pembengkakan penis, perdarahan, dysuria, drinage.
1.2 Mental
1.2.1 Sikap pasien sewaktu diperiksa
1.2.2 Sikap pasien dengan adanya rencana
pembedahan
1.3 Keluarga
1.3.1 Tingkat kecemasan
1.3.2 Tingkat pengetahuan.
2. Diagnosa Keperawatan
|
No.
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Intervensi
NIC
|
Hasil NOC
|
Kriteria Evaluasi
|
|
1
|
Nyeri akut.
|
~ Pemberian analgesik untuk mengurangi atau
menghilangkan nyeri.
~ Memfasilitasi penggunaan obat resep atau
obat bebas secara aman dan efektif
~ Meringankan atau mengurangi nyeri sampai
pada tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien.
|
~ Tingkat persepsi positif terhadap kemudahan
fisik dan psikologi.
~ Tindakan individu untuk mengendalikan
nyeri.
~ Keparahan nyeri yang dapat diamati atau
dilaporkan.
|
~ Pasien memperlihatkan tekhnik relaksasi
secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan.
~ Pasien menggunakan analgesic sebagai upaya
meredakan nyeri secara tepat.
~ Pasien memperlihatkan tekhnik relaksasi
secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan.
|
|
2
|
Resiko
Infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter.
|
~
Membersihkan, memantau dan memfasilitasi proses penyembuhan luka.
~
Meminimalkan nenyebaran dan penularan agens infesius.
~ Mencegah
dan mendeteksi dini infeksi pada pasien.
|
~ Tingkat
keparahan infeksi dan gejala terkait.
~ Tingkat
regenerasi sel dan jaringan pada luka terbuka.
|
~ Pasien
terbebas dari tanda dan gejala infeksi.
~ Pasien
telah memperlihatkan hygiene personal yang adekuat.
|
|
3
|
Defisiensi
Pengetahuan sehubungan
dengan perawatan
setelah Operasi.
|
~ Memberikan
informasi dan bimbingan tentang perawatan setelah operasi.
|
~ Pasien
dan keluarga dapat memahami segala bimbingan/informasi yang diberikan.
|
~ Pasien
memperlihatkan ketaatan dalam masa penyembuhan.
|
|
4
|
Resiko Harga diri rendah
situasional.
|
~ Membantu pasien untuk
menigkatkan penilaian tentang harga diri.
~ Menggunakan proses pertolongan
interaktif yang berfokus pada kebutuhan, masalah atau perasaan pasien untuk
meningkatkan pemecahan masalah.
|
~ Penilaian pribadi terhadap harga
diri.
~ Respon psikososial adaptif
individu terhadap perubahan bermakna dalam hidup.
|
~ Melaporkan perasaan berguna.
~ Mengatakan optimisme terhadap
masa depan.
|
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hipospadia
merupakan kelainan kongenital pada genitalia eksterna yang relatif sering
terjadi, kira-kira pada 3 diantara 1000 kelahiran anak laki-laki. Hipospadia
dapat terjadi sebagai kelainan yang terbatas pada genitalia externa saja atau
sebagai bagian dari kelainan yang lebih kompleks seperti intersex. Berbagai
teknik dan modifikasi untuk rekonstruksi terhadap hipospadia telah banyak
dilakukan. Karena dalam dan banyaknya pengetahuan mengenai hipospadia, Dr. John
W Duckett Jr., mendefinisikan hipospadiology sebagai suatu ilmu yang meliputi
seni dan pengetahuan mengenai koreksi pembedahan terhadap hipospadia
3.2 Saran
3.2.1 Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang
pembaca, terutama mahasiswa keperawatan
3.2.2
Semoga
dapat menjadi bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa keperawatan.
3.2.3 semoga makalah ini dapat menjadi pokok
bahasan dalam berbagai diskusi dan forum terbuka
DAFTAR
PUSTAKA
Buku
saku Diagnosis Keperawatan edisi 9 oleh Judith M. Wilkinsos, Nancy R dan Ahern
Buku
Diagnosis keperawatan Definisi dan klasifikasi Nanda Internasional 2013-2014
Hipospadia adalah salah satu keabnormalan pada saluran kemih atau uretra dan penis. Dalam kondisi normal, lubang uretra terletak di ujung penis untuk mengeluarkan urine. Tetapi pada pengidap hipospadia, lubang uretra justru berada di bagian bawah penis.
Hipospadia termasuk kelainan bawaan yang umumnya diderita sejak lahir. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada proses buang air kecil serta ereksi.
Gejala-gejala Hipospadia
Kondisi hipospadia yang dialami tiap penderita berbeda-beda. Tingkat keparahannya tergantung kepada lokasi lubang uretra pada penis.Pada umumnya, lubang uretra pada pengidap hipospadia terletak di dekat ujung penis. Tetapi ada juga pengidap dengan lubang uretra yang terletak di bagian tengah atau pangkal penis. Posisi kedua inilah yang disebut hipospadia yang parah.
Di luar letak lubang uretra, gejala-gejala hipospadia lainnya cenderung terlihat mirip. Di antaranya adalah:
- Kulup yang terlihat menaungi ujung penis. Ini terjadi karena kulup tidak berkembang di bagian bawah penis.
- Penis yang melengkung ke bawah akibat terjadinya pengencangan jaringan di bawah penis.
- Percikan abnormal yang terjadi saat buang air kecil.
Penyebab dan Faktor Risiko Hipospadia
Hipospadia adalah kelainan yang terjadi sejak lahir. Sama seperti cacat lahir pada umumnya, penyebab perkembangan abnormal pada penis ini belum diketahui secara pasti.Pembentukan penis selama bayi berada dalam rahim tergantung kepada hormon, seperti testosteron. Para pakar memperkirakan bahwa keabnormalan pada hipospadia kemungkinan disebabkan oleh keefektifan hormon yang terhambat.
Terdapat beberapa faktor yang diduga dapat memicu hipospadia. Salah satunya adalah pengaruh keturunan. Hipospadia memang bukan penyakit keturunan, tapi kondisi ini terkadang dapat terjadi pada bayi yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi yang sama.
Di samping keturunan, faktor-faktor pemicu lain diperkirakan juga bisa berdampak kepada perkembangan janin pada masa kehamilan. Misalnya pengaruh usia ibu yang di atas 40 tahun saat hamil dan pajanan rokok atau senyawa kimiawi selama kehamilan, terutama pestisida.
Diagnosis dan Penanganan Hipospadia
Bayi yang mengidap hipospadia umumnya dapat didiagnosis tidak lama setelah dilahirkan. Diagnosis ini bisa dilakukan melalui pemeriksaan fisik pada penis dan tidak membutuhkan tes-tes lain.Namun hipospadia yang parah membutuhkan pemeriksaan lebih mendetail untuk memastikan ada atau tidaknya keabnormalan pada alat kelamin pengidap. Karena itu, dokter akan menganjurkan pengidap untuk menjalani tes kromosom dan proses pemindaian area genital.
Meski positif didiagnosis hipospadia, bayi atau anak Anda belum tentu membutuhkan penanganan medis. Hal ini tergantung pada tingkat keparahan hipospadia yang dialami.
Jika lubang uretra terletak sangat dekat dari lokasi yang seharusnya dan bentuk penis tidak melengkung, penanganan medis khusus kemungkinan tidak diperlukan. Tetapi jika lubang uretra berada jauh dari lokasi yang seharusnya, operasi pemindahan uretra perlu dilakukan.
Langkah operasi ini bisa dijalani kapan saja, tapi masa idealnya adalah saat anak berusia empat bulan hingga 1,5 tahun. Dalam prosedur ini, dokter bedah akan merekonstruksi saluran kemih pada lokasi yang seharusnya. Begitu juga dengan bentuk penis yang melengkung ke bawah karena pertumbuhan kulup yang tidak normal.
Perlu diingat bahwa jaringan dari kulup biasanya diperlukan dalam operasi ini. Karena itu, hindari proses sunat sebelum prosedur rekonstruksi ini dilakukan.
Langganan:
Postingan (Atom)
